Syukur dan Peningkatan Kinerja Pegawai

0
234
72

Oleh:  Suparlan *)

Pada hari Juma’at, tanggal 7 Januari 2016, Mendikbud, Muhadjir Effendie, alhamdulillah menjadi khatif dan sekaligus imam di Masjid Kemendikbud, Baitut Tholibin. Jumlah jamaahnya seperti biasa penuh, baik dalam Ruang utama, lantai atas, dan bahkan ruang bawah (basement). Saya kebetulan dapat tempat yang cukup nyaman di lantai atas. Ketika pembawa acara mengumumkan bahwa khatib dan imam pada salah Juma’at ini adalah Mendikbud, saya mencoba melongoknya. Terlihat beliau berbaju putih, baju kerja Presiden Joko Widodo. “Itulah beliau” batin saya mengiyakan.

Setelah pembawa acara mengumumkan bahwa khatif mulai naik mimbar saya mencoba melongoknya lagi. “Ya itulah beliau, sama seperti yang saya lihat di foto dalam koran atau media sosial yang biasa yang saya baca” batin saya mengiyakan sekali lagi. Saya ingin menulis apa materi yang beliau sampaikan, tentu sebagai tokoh Muhammadiyah sekaligus sebagai Mendikbud. Saya mulai mendengarkan bacaan surat Alfatihah sampai dengan salam dan dzikirnya. Saya mendengarkan bacaan beliau secara khusuk. Tentu saya sampai dengan materi kutbah yang beliau sampaikan dengan dalil-dalil dari Alquran dan Hadisnya, baik dalam Bahasa Arab maupun terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Memang saya tidak faham Bahasa Arab seperti beliau. Bahasa Arab beliau menurut standar telinga saya sama dengan lulusan pesantren.  Maaf saya harus mengakui bahwa Bahasa Arab saya masih terbata-bata. Itu pun hanya dalam surat-surat pendek, yang saya baca dalam salat.  Sebagai ilmuwan yang telah malang melintang di negara lain, kutbah beliau tentu saja juga mengutip beberpa kalimat berbahasa Inggris. Dalam hal ini sedikit banyak saya juga berusaha mengikutinya sedikit, meski pernah di University of Houston dua tahun. Dengan menulis kutbah Mendikbud ini, mudah-mudahan saya dapat menjadikan kutbah beliau menjadi bahan pelajaran yang berharga. Sayyidina Ali RA mengingatkan kita agar “tangkaplah ilmu dengan menulisnya.”

Syukur dan kinerja pegawai

Inilah kira-kira judul yang beliau sampaikan dalam kutbah kali ini. Sekalian untuk memberikan motivasi kepada pegawai Kemendikbud, judul kutbah tersebut menurut saya pas dengan momentum kondisi dan posisi beliau sebagai Mendikbud.  Saya bermaksud mengunggah tulisan ini ke laman dan portal pribadi saya. Insya Allah. Saat ini saya sedang gandrung dengan tulisan singkat (short writing), karena terpengaruh oleh tulisan Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep yang melontarkan gagasan menyajikan perpustakaan di ruang kelas untuk program GLS (Gerakan Literasi Sekolah) dan GIMM (Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis) yang telah diluncurkan oleh mantan Mendikbud Anies Baswedan. Tulisan Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep itu beralasan karena para siswa memang sulit untuk diajak ke perpustakaan sekolah. Bukan hanya karena bukunya ya itu-itu saja. Di samping itu juga buku-buknya yang tebal, yang harus selesai dibaca dalam tiga atau lebih. Di beberapa sekolah Komite Sekolah membuat pojok baca untuk menarik minat baca siswa. Tapi minat baca tersebut memang harus ditumbuhkan melalui pembiasaan. Reading habit akan tumbuh, dan kemudian akan menjadi budaya baca, melalui proses internalisasi nilai-nilai sesuai dengan teori Benjamin S. Bloom yang kita kenal dalam ranah afektifnya. Sementara transfer of knowledge merupakan proses pengembangan kemampuan oleh Benjamin S. Bloom dikenal dalam ranah pengetahuan atau ranah kognitif (cognitive domain).  Strategi lainnya, untuk menumbuhkan budaya baca tersebut, para guru memcoba membuat synopsis tulisan yang menarik dalam satu atau dua halaman. Tulisan itulah yang diberikan kepada siswa untuk membacanya. Sebelum pelajaran dimulai, para siswa diminta membaca apa yang tertarik untuk dibaca dalam lima belas menit. Itulah tulisan singkat yang perlu dibiasakan untuk dibaca. Budaya membaca memang perlu dibiasakan. Tulisan singkat tersebut juga saya tulis untuk tulisan apa saja. Siapa tahu tulisan tersebut juga dapat dijadikan kumpulan tulisan yang dapat diterbitkan oleh peberbit, seperti tulisan ini. Dalam surat Ibrahim ayat 7 Allah berfirman “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Aku akan menambah nikmat-Ku kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku teramat pedih.” Syukur adalah berterima kasih sepenuh hati atas segala kenikmatan dari Allah. Orang yang bersyukur meyakini bahwa rezeki tidaklah salah pintu. Allah SWT telah menjanjikan akan menambah nikmat-Nya bagi siapa pun yang telah bersyukur. Selain itu, Ibnu ‘Abbas menceritakan bahwa Rasulullah bersabda “Orang pertama yang akan dipanggil untuk masuk surga adalah orang-orang yang senantiasa memanjatkan puji syukur kepada Allah, yakni orang-orang yang senantiasa memuji Allah dalam keadaan lapang atau dalam keadaan sempit.” (Tanbihul Ghafilin 197). Kata syukur ini memang berasal dari Bahasa Arab. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata syukur diberi makna: (1) rasa terima kasih kepada Allah, dan (2) untunglah (menyatakan lega, senang, dan sebagainya). Dalam Alquran, kata syukur dalam berbagai bentuknya tertulis dalam enam puluh empat kali. Dengan demikian, betapa pentingnya makna syukur tersebut dalam kehidupan. Sementara itu pendidikan itu menurut John Dewey adalah kehidupan itu sendiri. Education is not only a preparation of life. But education is life itself. Akhirnya kutbah beliau kembali kepada intinya, yakni pastinya tentang pendidikan. Menggunakan waktu secara cermat dan efektif dalam hal ini juga mengandung maksud untuk melaksanakan syukur kepada Allah SWT. Orang Inggris mengatakan time is money. Orang Arab mengatakan waktu adalah pedang.

Dalam konteks kekinian, kata syukur memiliki makna yang jauh lebih luas, antara lain syukur memiliki makna memiliki kinerja yang sangat tinggi.  Hal ini terkait dengan maknanya jika harus senantiasa memuji Allah, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit. Bahkan makna syukur jauh lebih luas lagi, karena kinerja yang tinggi itu adalah kinerja tanpa korupsi. Itulah yang kita kenal dengan shoft corruption, termasuk menghindari pungutan liar (pungli) yang kini digalakkan oleh Presiden Joko Widodo, meski hal tersebut sebenarnya barang lama yang dikemas kembali. Sama dengan kebijakan link and match yang dahulu diluncurkan oleh Mendiknas Wardiman Djojonegoro.

Untuk menutup tulisan singat ini, perkenankan saya menyampaikan kata-kata mutiara Ki Hadjar Dewantara: “Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran dan tubuh anak. Ketiga bagian ini, budi pekerti, pikiran, dan tubuh anak, merupakan satu kesarian yang tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita” melalui proses pendidikan. Bukan hanya proses pengajaran atau ransfer of knowledge tapi juga internalisasi nilai-nilai. Semua itu harus dilaksanakan sesuai dengan konsep warisan Ki Hajar Dewantara “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.” Dalam hal ini, kita memang perlu saling mengingatkan bahwa pada akhir jabatannya yang hanya dua puluh bulan itu Anies Baswedan mengatakan “masalah pendidikan di negeri ini memang bejibun.”  Lebih dari itu para ahli pendidikan atau pedagogi telah lama mengingatkan bahwa “the root of education is bitter, but the froet is sweet.” Akar pendidikan itu pahit, tapi buahnya adalah manis.

Font: 1.043

Laman: www.suparlan.com; E-mail: me@suparlan.com; Portal: masdik.com;

Depok, 3 Januari 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here