Bajay Merdeka

0
182

Oleh: Suparlan

Apa saja bisa ditulis. Tentu saja yang menarik. Apa yang menarik? Apa saja, yang sesuai dengan hati nurani ini. Sambil menunjuk dada sebelah kiri seperti penyanyi itu! Termasuk ketika sedang duduk di dalam bus jemputan kantor. Sopirnya bernama Wardi. Sering kita panggil Pak Wardi. Seorang yang baik hati, jujur, sopan, dan suka menolong apa saja, terutama kalau ibu kesulitan membuka pintu bus yang gede itu. Penumpangnya sebagian besar para ibu-ibu. Hanya dua orang yang laki-laki yang ada di dalam bus jemputan itu, yakni sopir dan saya sendiri, penulis tulisan ini. Biasanya, begitu naik bus jemputan itu saya mulai menulis apa saja, termasuk kalau ada tema yang menarik seperi “Bajay Merdeka” itu. Alhamdulillah. Ada judul yang bagus yang dapat ditulis untuk kemudian diunggah di laman pribadi.

Ketika banyak penumpang mulai tertidur, seorang ibu teriak! Itu ada bajay merdeka!! Semua penumpang bus jemputan yang mulai terkantuk-kantuk melihat semua kepada satu kendaraan yang ditunjukkan oleh ibu itu. Oh ya, ada satu bajay yang memasang bendera merah putih di belakang mobil bajay-nya. Ada tulisan MERDEKA di bawahnya. Ohh, itu satu momen yang sangat penting, karena ada mobil rakyat yang memasang bendera merah putih pada saat banyak orang tak begitu peduli bahwa hari ini adalah hari kemerdekaan negara kita, 17 Agustus. Sayang momen itu tak terabadikan. Tidak dapat ngeklik HP, karena ada di dalam tas. Nah inilah perlunya siap sedia di segala situasi bagi seorang penulis. Lewatlah sudah, kecuali yang masih di angan-angan untuk ditulis dan diunggah ke laman pribadi. Meski hanya menjadi selembar tulisan, nilainya menjadi sejuta harapan. Karena banyak juga orang yang ngeklik tulisan itu. Alhamdulillah.

Tapi masalahnya bukan terletak banyak sedikitnya orang yang dapat ngeklik tulisan ini. Masalahnya adalah masih banyaknya orang yang belum dapat mengekspresikan kemerdekaannya di hari kemerdekaan, karena masih banyaknya orang yang sejatinya belum sepenuhnya merdeka karena faktor sosial-ekonomi. Bukan memperoleh pendidikan yang merdeka seperti yang dilakukan oleh Paulo Freirie bagi anak-anak di negara Brazil. Tapi sebaliknya masih banyak terjadi kekerasan terhadap anak seperti kasus Angeline yang bahkan telah dibunuh orangtua angkatnya di Jalan Sedap Malam di Pulau Bali. Dengan kekerasan dan pembunuhan anak ini terjadilah proses kefakiran-kekufuran. Inilah yang perlu ditulis untuk menjadi bahan pelajaran untuk anak-anak bangsa agar melakukan hal yang sama di masa depan.

Dua naskah tulisan belum di-submit ke penerbit. Biar saja, sekalian tulisan yang satu ini nanti akan diup-load ke laman pribadi yang menyimpan banyak tulisan pendek (short writing) yang akan diunggah. Beberapa tulisan itu mesti harus dibaca lagi. Karena menurut teori menulis, waktu yang paling lama untuk menulis adalah revising (revisi) dan editing (menyunting). Benar juga teori ini. Tapi yang paling penting adalah mengabadikan peristiwa BAJAY MERDEKA itu. Karena apa? Karena momentumnya pas banget dengan peringatan tujuh belasan yang sudah banyak tulisan sudah saya unggah ke laman. Mudah-mudahan banyak juga yang membaca. Saya ingat dengan kemampuan baca anak-anak SD di negeri ini. Pembaca tentunya ingin tahu? Lebih rendah dari negara Vietnam, yang merdekanya tanggal 2 September 1945. Hampir sama dengan negara kita. Tapi, kedudukannya dalam tes PISA (The Program for International Student Assessment) untuk anak-anak usia 15 tahun justru melejit ke urutan ke-12. Indonesia menduduki urutan ke berapa? Kalau biasa ngeklik internet, tentu pembaca akan dapat mengetahui urutan ke berapa.

Siapa yang merdeka? Merdeka dalam bidang apa?

Seharusnya yang merdeka adalah kita semua, termasuk pemilik bajay tersebut. Karena di mobilnya telah diekspresikan tulisan merdeka. Tapi Prof. Dr. Suyanto, Ph.D, direktur jenderal pendidikan dasar dan menengah pernah menulis puisi “Kapan kita merdeka lagi?” Karena menurut beliau, tanggal 17 Agustus 1945 adalah baru merupakan kemerdekaan dalam bidang politik. Karena dalam bidang sosial-ekonomi kita belum sepenuhnya merdeka. Kemampuan baca anak-anak SD kita masih di bawah negara Vietnam. Defisit anggaran masih membuat pusing para ahli ekonomi. Masih banyak anak-anak jalanan yang tidak bisa sekolah. Masih banyak anak-anak yang tidak bisa bersekolah karena orangtuanya tidak punya duit. Masih kita temukan orang-orang gerobak yang membawa anak-anaknya yang masih kecil meminta-minta di pinggir-pinggir jalan. Trenggalek, kampung halaman hamba, juga telah terjadi longsor. Dan sebagainya. Mudah-mudahan pemilik bajay merasakan kemerdekaan itu. Minimal merdeka untuk mengekpresikan kata merdeka di bajay-nya.

Pembicaraan para penumpang bajay melebar ke masalah lain. Penumpang lain tidak melihat kendaraan lain yang memasang bendera merah putih. Termasuk dalam mobil-mobil mewah yang telah membuat macet di jalan raya. Karena itulah di bus way tertulis MERDEKA ATAU MA … CET. Penulis tulisan ini mengekpresikan tulisan itu dengan kesal karena sering macet di jalan raya. Satu ekspresi tersendiri dari pemilik bus way yang sering melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta. Penerapan sistem ganjil genap juga belum memperoleh hasil. Karena masalahnya adalah kesenjangan antara panjang jalan dengan jumlah kendaraan. Itu bukan kata saya, tapi kata Pak Wardi, supir bus jemputan yang dengan setia mengantarkan para pegawai Kepmendikbud, mulai dari pukul 05.30 WIB setiap hari, dan pulangnya mulai puluk 16.00 WIB.

Dengan lincahnya Pak Wardi akhirnya lolos dari kemacetan di jalan raya, dan sampailah para penumpang di Gedung E tepat pukul 07.00 WIB. Kami semua mengucapkan alhamdulillah. Terus langsung ke tempat mengambil wudhu untuk shalat duha sebagai bentuk pengamalan nilai-nilai Pancasila di hari kemerdekaan ini. Meski tidak ikut upacara bendera, perkenankan saya ikut mengucapkan pekik MERDEKA, sebagaimana saya ucapkan ketika memberikan paparan dalam workshop Dewan Pendidikan. MERDEKA! Para peserta workshop pun membalasnya dengan lebih bersemangat MERDEKA!!! Seperti lagu merdu yang dilantunkan oleh FARIZ RM. Bagaimana pun, sopir bajay merdeka yang melintas bus jemputan di jalan raya perempatan Fatmawati masih menyisakan semangat merdeka kepada para penumpang dengan pekiknya sendiri, MERDEKA!

*) Laman: www.suparlan.com; Surel: me@suparlan.com. Portal: masdik.com.

Depok, 17 Agustus 2016.

LEAVE A REPLY