Hardiknas 2 Mei 2017: Dari Bloom Sampai Empat Sifat Rasulullah

0
243
41c0235e7893614f5f0553d6f1a76790.jpg

Oleh: Suparlan *)

 

Setiap tahun kita memperingati hari bersejarah bagi seluruh anak bangsa, yakni Hari Pendidikan Nasional. Hari Kelahiran Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara. Momentum bersejarah ini tentu saja jangan sekali-kali kita lupakan begitu saja. Bung Karno berpesan “Jasmerah” (jangan melupakan sejarah). Momentum ini harus kita jadikan tonggak untuk meningkatkan mutu pendidikan layanan pendidikan untuk seluruh anak bangsa. Mutu layanan pendidikan tersebut tentu saja berujung utama untuk meningkatkan mutu pendidikan, yang tidak lain adalah mutu trimatra tujuan pendidikan, yang menurut konsep Benjamin Samuel Bloom disebut sebagai ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

Ki Hajar Dewantara dan Bloom

Konsep Bloom ini sebenarnya selaras dengan konsep Ki Hadjar bahwa pendidikan sesungguhnya harus menuju ke arah kebahagiaan batin serta keselamatan hidup lahir. Kebahagiaan batin sesungguhnya aspek afektif. Keselamatan hidup lahir sesungguhnya gabungan aspek kognitif dan psikomotor. Sungguh tinggi konsep yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara dengan istilah “Lawan Sastra Ngesti Mulya (Dengan Ilmu  Menuju Kemuliaan).” Inilah kehebatan Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara yang meletakkan ilmu pengetahuan menjadi motor aktivitas rohani (afektif) dan jasmani (psikomotor). Dengan kata lain, melalui olah otak (brain) secara total, kita harus melanjutkan sampai kepada aktivitas olah hati (heart) dan berujung kepada olah fisik (psychomotor) manusia.

Pendidikan dalam konteks kemanusiaan secara makro, kita mengenal pendidikan sebagai aktivitas untuk memanusiakan manusia (humanisasi). Itulah sebabnya, semua aktivitas pendidikan tersebut kita sebut sebagai upaya memanusia manusia secara holistik dalam ketiga ranah tujuan pendidikan nasional tersebut tidak lain adalah bukan hanya untuk kepentingkan manusia secara pribadi, tetapi justru untuk kepentingan manusia secara sosial sebagai bangsa dan umat manusia. Dalam bahasa Ki Hajar Dewantara disebut sebagai “Memayu hayuning sariro (pribadi), memayu hayuning bangsa, dan memayu hayuning bawana.” Dengan kata lain, apa pun yang diperbuat oleh seseorang itu, hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, dan bermanfaat pula bagi manusia di dunia pada umumnya.

Pendidikan (pedagogi)

Dalam konteks secara mikro, aktivitas tersebut dikenal sebagai mendididk atau membimbing (pedagogi) yang berasal dari kata “paes” yang artinya anak, dan “agogos” artinya membimbing. Dalam konteks inilah Ki Hajar Dewantara mendefinisikan konsep pendidikan secara lengkap tentang pendididikan adalah “Ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani.” Konsep lengkap tersebut menjelaskan hubungan antara guru dan peserta didik, yakni jika guru berada di depan dalam proses pendidikan, maka seharusnya sang guru dapat menjadi panutan. Sebaliknya, jika guru tersebut berada di tengah-tengah peserta didik, maka sang guru harus dapat memberikan semangat, apabila berad di belakang, maka sang guru harus dapat memberikan daya kekuatan. Konsep ini sebenarnya bukan hanya dalam bidang pendidikan saja dalam kepemimpinan dan bidang kemanusiaan pada umumnya. Hal ini selaras dengan konsep pendidikan menurut John Dewey yang menyebutkan bahwa “education is not a preparation of life, but it is life itself.” Pendidikan bukan persiapan hidup, tapi pendidikan adalah hidup itu sendiri.

Budaya dan Pendidikan

Tidak bosan-bisannya kita menjelaskan bahwa pendidikan merupakan hasil pendidikan. Pendidikan merupakan anak kandung kebudayaan. Itulah sebabnya, Daoed Joefoef sangat mengkhawatirkan jika terjadi pendidikan itu dipisahkan dengan kebudayaan. Pernah suatu sayat pendidikan dipisahkan dengan kebudayaan, sehingga pendidikan disejajarkan dengan  pariwisata. Akibatnya pendidikan dianggap produk yang dapat diperjual-belikan, bahkan dengan harga yang mural. Sebaliknya, pendidikan bukanlah produk immaterial, bukan produk material yang diperjual-belikan. Oleh karena itu, maka sistem nilai kejujuran bukan hanya dipandang sebagai produk material yang hanya dapat diperjualbelikan secara murah. Bahkan keimanan dan ketakwaan pun telah dijual dengan murah.

Itulah sebabnya pendidikan karakter juga harus melalui proses pembudayaan, atau melalui proses pembiasaan agar hasil pendidikan karakter tidak mudah goyah dan tidak mudah lepas dari kehidupan kita. Proses pembudayaan tersebut dalam praktik harus dilaksanakan melalui proses internalisasi, atau proses karakteritasi dalam ranah afektif. Bukan ranah koknitif dan bukan ranah psikomotorik. Walaupun proses internalisasi dalam ranah afektif tersebut memang harus diperkuat dengan dua ranah yang lain, yakni ranah kognitif dan psikomotor.

Hasil pendidikan Tidak lain adalah Empat Sifat Akhlak Rasulullah

Walhasil, perlu difahami bahwa proses pendidikan merupakan proses pencerahan. Hasilnya adakan kebijakan atau kecerdasaan yang berkualitas tinggi, dapat dipercaya dan dapat menyampaikan dengan benar. Itulah hasil pendidikan yang kita harapkan, dan bukan proses hasil pendidikan dari proses yang diperoleh dari taklid buta. Oleh karena itu, proses pendidikan tersebut harus dilakukan dengan pencerahan atau proses pencerdasan atau fathonah. Sebagaimana kita ketahui Baginda Rasulullah memiliki empat sifat, yakni:

(1) siddiq atau kejujuran atau trustworthiness,

(2) fathonah atau kecerdasan,

(3) amanah atau dapat dipercaya, dan

(4) tabligh atau menyampaikan dengan benar.

Oleh karena itu, hasil pendidikan yang kita harapkan tidak lain sebenarnya adalah empat sifat Baginda Rasulullah. Empat sifat Baginda Rasulullah SAW tersebut sebenarnya jika ditelusuri secara mendalam, empat sifat Baginda Rasulullah SAW tersebut sebenarnya juga identik dengan teori 9 (sembilan) tipe kecerdasan majemuk yang dikemukakan dalam konsep Howard Gardner dalam tulisannya berjudul Frame of Mind: Multiple Intelligence:

(1)    (S) spatial intelligence, atau kecerdasan spasial atau gambar atau visual;

(2)    (L) language intelligence, atau kecerdasan language atau bahasa;

(3)    (I) interpersonal intelligence, kecerdasan interpersonal atau kecerdasan komunikasi;

(4)    (M) music, kecerdasan musik atau seni suara;

(5)    (N) naturalist intelligence, kecerdasan naturalis atau cinta alam;

(6)    (B) bodily kinestetik atau kecerdasan gerak badan;

(7)    (I) intrapersonal intelligence, kecerdasan intrapersonal;

(8)    (L) logical intelligence, kecerdasan logikal matematik; dan

(9)    (S) spiritual intelligence, kecerdasan spiritual.

Kesimpulan

Uraian singkat tersebut menjelaskan beberapa butir kesimpulan sebagai beriku:

Satu, pendidikan adalah kehidupan. Ada ahli yang menyatakan bahwa semua tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru, dan semua buku dan media adalah ilmu;

Dua, Ki Hajar Dewantara adalah bapak pendidikan nasional kita, yang patut menjadi punutan kita semua;’

Tiga, pencerahan merupakan proses pendidikan;

Empat, empat sifat baginda Rasulullah SAW adalah tujuan pendidikan yang sesungguhnya;

Lima, trimatra tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, tiga ranah tujuan pendidikan menurut Benjamin Samuel Bloom, bahkan sembilan tipe kecerdasan sesungguhnya dapat menjadi acuan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi penulis dan pembacanya. Amin.

*) Laman: www.suparlan.com; Surel: me@suparlan.com; Portal: masdik.com.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here