GGD (Guru Garis Depan) Senantiasa Di Depan

0
109

Oleh: Suparlan *)

 

Life is a gift, and it offers us the privilege, opportunity, and responsibility to give something back by becoming more.

Kehidupan adalah anugerah, dan ia menawarkan kepada kita hak istimewa, kesempatan, dan tanggung jawab untuk memberikan kembali sesuatu yang menjadi lebih banyak. Tony Robbins (Anthony “Tony” Robbins is an American motivational speaker, businessman, and author).

Pada tanggal 7 Mei 2008 saya telah menulis bertajuk Aru, Aku Rela Untukmu. Tulisan itu saya unggah di laman pribadi saya www.suparlan.com. Sudah lama sekali saya menulisnya dan mengunggahnya. Tercatat hanya 6 orang yang memberikan komentar dan membalasnya kepada saya melalui alamat e-mail. Ternyata Program GGD memperoleh sambutan yang luar biasa. Pdigagas oleh Direktur Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P2TK) Ditjen Pendidikan Menengah Sumarna Surapranata, dengan belajar dari program Indonesia Mengajar yang pernah digagas Anies Baswedan,

Penghasilan GGD

Angkatan pertama GGD berjumlah 798 orang. Mereka berstatus CPNS baru menggunakan kuota pengangkatan 2014 lalu. Sebagai guru di daerah terpencil, terdepan, dan tertinggal, mereka dijamin urusan penghasilannya. “Supaya mereka tenang mengajarnya,” kata Pranata di kantornya (1/6). Dia lantas merinci beberapa pos penghasilan guu peserta program GGD tadi. Sebagai abdi negara, mereka mendapatkan gaji pokok PNS golongan 3-A. Angkanya sekitar Rp 2,5 juta per bulan. Karena masih berstatus CPNS, mereka baru mendapatkan 80 perseb gaji pokok. Penghasilan berikutnya adalah tunjangan guru di daerah khusus sebesar Rp 1,5 juta per bulan. Kemudian, peserta program GGD ini juga mendapatkan tunjangan kinerja daerah (TKD) yang jumlahnya bervariasi di setiap daerah. “Ada bupati yang bilang menyiapkan TKD untuk guru hingga Rp 2 juta per bulan,” kata pejabat yang hobi mendengarkan musik klasik itu. Guru peserta GGD ini juga berhak mendapatkan tunjangan profesi guru (TPG). Namun tunjangan ini ditunda dulu hingga guru peserta GGD berstatus PNS, bukan CPNS. Untuk bisa CPNS harus mengikuti pendidikan prajabatan di daerah masing-masing. Diperkirakan setelah Lebaran nanti mereka sudah banyak yang berstatus PNS. Besaran TPG merujuk pada gaji pokok yang diterima masing-masing guru. Maka jika ditotal secara keseluruhan, penghasilan atau gaji guru peserta GGD bisa mencapai Rp 8 juta bahkan lebih. Kompensasi gaji ini wajar, karena mereka mengajar di daerah yang sulit terjangkau. Di tahun pertama ini guru peserta GGD disebar di Provinsi Aceh, NTT, Papua, dan Papua Barat.

Cocok sekali memang judul tulisan ini. Amat sangat dimaklumi, jika pada saat ini program GGD (Guru Garus Depan) Tapi, di antara pembaca yang membalas tulisan tersebut adalah seorang bernama Fitriwidiastuti yang beralamat fitriwidyastutimei16@gmail.com. Fitri menjelaskan bahwa sebenarnya ternyata dia tinggal di Bekasi yang sebenarnya tidak jauh dari tempat tinggal saya, yaitu Taman Depok Permai, Depok II Timur. Yang menarik adalah ternyata Fitri, demikian dia menjelaskan latar belakangnya akan pergi ke Pulau Aru. Dia tertarik membaca tulisan saya tersebut untuk mencari lebih lanjut tentang kondisi Pulau Aru, termasuk apakah ada sinyal HP dan apakah ada listrik, dan bagaimana akses dari kecamatan dan kabupaten di Pulau Aru tersebut. Tentu saja, tulisan tersebut tidak secara mendetail dalam menjelaskan informasi tentang Pulau Aru. Yang menarik mungkin justru hanya judul tulisan yang saya tulis, Aku Rela Untukmu. Aku rela bertugas menjadi Guru Garis Depan. Karena tulisan itu saya memang rela sampai ke daerah yang amat terpencil itu. Tapi ternyata dalam tulisan tersebut saya juga menuntukkan foto pesawat kecil yang saya tumpangi ketika terbang ke pulau tersebut. Bahkan ada foto teman saya yang sedang memegang ikan besar, dan foto kelapa yang berceceran, seakah tak berguna. Pulau Aru saat ini mungkin tudak lagi terpencil seperti ketika pada tahun 2008 saya bertugas di daerah itu, meski daerah itu masih disebut sebagai daerah 3T, yakni daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Mungkin Fitri dan siapa pun yang akan bertugas ke daerah ini pasti juga akan berfikir untuk diangkat di daerah seperti ini. Sebutannya memang menunjukkan keluarbiasaan semangat yang sangat tinggi, yakni menjadi GURU GARIS DEPAN. Sebutan ini sangat menantang, dan kalau akan menerima untuk bertugas di daerah seperti itu. Toh di sana masih ada daun mengkudu yang dapat diiris-iris untuk membikin nasi goreng yang lezat. Demikianlah yang diceritakan oleh seorang ibu yang telah bercirita kepada saya pada tahun 2008. Negeri ini negeri yang kaya raya, tongkat pun ditanam akan tumbuh. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Daun sambiloto saja dapat menjadi obat diabetes militus. Daun kelor pun tumbuh menjadi sayur-mayur yang menyehatkan. Allah Swt. memberikan penyakit sekalian dengan obatnya. Kini bekatul ternyata dapat diminum untuk memperlancar pencernaan usus besar kita. Alhamdulillah.

Guru Garis Depan

Untuk menjadi Guru Garus Depan di Pulau Aru memang merupakan tantangan tersendiri. Apalagi Fitri adalah seorang wanita cantik, dan ternyata sangat disayang oleh ibunya. Tentu saja ibunya memang tidak terlalu rela untuk melepas keberangkan Fitri ke daerah 3T seperti Pulau Aru ini. Tapi bagi seorang tua berusia 68 tahun seperti saya, pastinya akan memberikan dukungan kepada anak muda yang telah ditungu-tunggu warga masyarakat. Tapi, dukungan ini haruslah memperoleh dukungan tambahan dari para pejabat yang mendambakan kehadiran Fitri yang mestinya memang sangat diharapkan oleh anak-anak muda yang ingin mendapatkan tiga tujuan pendidikan di daerah Aru, yakni pengetahun, sikap, dan keterampilan. Fotri adalah sosok yang diharapkan oleh warga masyarakat, yang masa depan anak-anaknya ada di tangan Fitri. Itulah yang dihatapkan semua anak-anak bangsa di negeri Indonesia yang tersebat di 1700-an pulau yang tersebar di Nusantara ini, dengan 700-an suku dan bahasa. Mereka adalah anak-anak bangsa yang membutuhkan pendidikan seperti anak-anak bangsa yang lainnya. Sekali lagi, sebagai generasi pendahulu, saya harus mendukung keberangkan Fitri untuk meneruskan perjuangan di Pulau Aru, dengan harapkan memperoleh dukungan siapa saja kepada Fitri. Yang diharapkan pertama adalah peneriman masyarakat dan orangtua Sekolah  Pulau Aru. Bupati ataupun Gunernur Maluku menengarkan permohonan ini. Siapa lagi kalau bukan seperti Fitri ini yang dengan semangat baca rela akan mengemban tugas mulia menjadi GGD (guru garis depan) di daerah 3T. Bupati Kabupaten Dobo tentu saja akan menerima Fitri sebagai keluarga besar Warga Dobo. Kepala Sekolah-Kepala Sekolah di daerah 3T tersebut dihadapkan dapat menerima Fitri dengan tangan terbuka. Mudah-mudahan para pejabat tersebut dapat memberikan dukungan, setidaknya dukungan moral. Amin.

Penutup

Sebagai kata penutup, baiklah kita ingat kembali tentang makna pendidikan yang sebenarnya. John Dewey menyatakan “education in not a preparation of life, but it’s it is life itself. Pendidikan bukanlah persiapan kehidupan, tapi pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Jadi ketika Fitri mengayuh bidang pendidikan, maka sesungguhnya Fitri akan mengayuh kehidupan itu sendiri yang demikian luas. Wallahu alam.

*) Laman: www.suparlan,com. Surel: me@suparlan.com. Portal: masdik.com.

BAGIKAN
Berita sebelumyaSekolah tak Penuhi Kuota 20 Persen Siswa Miskin Harus Disanksi
Berita berikutnyaOlimpiade Sains Nasional 2017 Diikuti 1.280 Siswa
Hallo, Saya Suparlan. Penulis buku pertama saya berjudul MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA, tentang KECERDASAN MAJEMUK. Silakan membuka laman pribadi www.suparlan.com dan portal pendidikan Masdik.com. Sampaikan ide dan masukan. Bahkan BAHAN DISKUSI untuk memperkaya portal pendidikan ini. Matur nuwun sanget.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here