Mondok di Pesantren: Sistem Daurah Menciptakan Siswa Unggul

0
675

JPNN.com SURABAYA – Tak hanya Ponpes Amanatul Ummah, nama pesantren-pesantren lainnya di Jawa Timur juga banyak yang menyalurkan santri-santrinya ke perguruan tinggi terkemuka. 

Seperti Pondok Moderen Gontor Ponorogo, Pondok Pesantren Sidogiri Kraton Pasuruan, Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang, Al Khairot Malang dan lainnya. 

Pondok-pondok masa kini sudah mampu pula melahirkan pejabat-pejabat di negeri ini. Lukman Hakim Syaifudin, misalnya.

Menteri Agama tersebut lulusan Gontor. Pondok di Kota Reog itu juga melahirkan Din Syamsudin, Hasyim Muzadi, Idham Chalid, dan Hidayat Nurwahid. Wagub Jatim Saifullah Yusuf, Bupati Banyuwangi Azwar Anas, maupun Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa, juga dibesarkan di lingkungan pesantren.

Pendidikan yang masuk ke tubuhnya, juga banyak disumbang dari lingkungan pesantren. Dengan banyaknya santri mondok yang sukses itulah, maka sudah tidak diragukan lagi kualitas pesantren Indonesia masa kini.

Tak heran, kini banyak orang tua yang lebih memilih memasukkan anaknya ke pesantren dibandingkan ke sekolah umum. 

Apalagi mulai tahun lalu, juga ada gerakan #Ayo Mondok yang diluncurkaan Nahdatul Ulama (NU). Ponpes pun kita banyak peminatnya.

Asep mengakui memang peminat untuk masuk pesantren begitu meningkat pada 10 tahun terakhir.

“Sistem pendidikan pesantren mungkin lebih modern dibandingkan dengan sekolah umum yang berstandar internasional ataupun apalah. Karena sistem pendidikannya itu dari dia bangun tidur sampai tidur lagi,” jelas Asep.

Pria kharismatik dan ramah itu mengatakan, saat ini yang melahirkan lulusan bertaraf internasional justru ditunjukkan oleh sekolah-sekolah berbasis pesantren. 

“Mengapa? Karena orientasi pendidikan di pesantren itu mewujudkan manusia unggul dan utuh,” jelas dia. 

Unggul dan utuh dalam arti melaksanakan sekolah berbasis pesantren, bertujuan untuk melahirkan manusia yang menguasai ilmu agama sebagai bekal bagi lahirnya seorang ulama besar.

Selain itu juga menguasai ilmu-ilmu umum sebagai bekal menjadi pemimpin, konglomerat, dan profesional di bidangnya. Karena itu sistem pendidikan  dilaksanakan secara ketat dan bertanggung jawab, unggul, utuh, dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat yang berminat.

Dimana dalam proses pendidikan para santri sudah bangun jam 03.00 dan sang kiai selalu berada di tengahtengah para santri hingga selesai mengaji kitab.

Sekitar pukul 05.15 dan selanjutnya mereka harus bersiap-siap untuk makan pagi, mandi dan berangkat sekolah untuk mempelajari kurikulum nasional hingga pukul 16.00.

“Habis salat maghrib, ada pembelajaran kuriklum Al-Azhar, dilanjutkan belajar malam terbimbing hingga jam 22.30. Setelah itu baru mereka istirahat,” jelas dia.

Inilah implementasi perpaduan antara tradisi kurikulum nasional dengan pendidikan berbasis pesantren.

Kiranya, hakekat pendidikan karakter model pesantren seperti ini sulit ditemukan di tempat lain, di luar pesantren. 

“Kami menggunakan sistem dauroh (repetisi). Para siswa yang belajar di lembaga pendidikan pesantren, selalu diminta untuk mengulang berkali-kali sepulang sekolah di bawah bimbingan guru pendamping senior,” ungkap Asep. (jpg) 

Selengkapnya: www.jpnn.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.