‘Tsunami’ Pernah Terjadi di Dewan Pendidikan Provinsi Bangka Belitung

0
1131

Oleh: Suparlan *) 

***

Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru, dan setiap buku adalah ilmm

(Roem Topatimasang)

Orang bijak mampu menjembatani antara visi dan implementasi, dengan membuat jalur ke tujuan yang ingin dicapai

(JP. Morgan, pebisnis ternama AS)

***

Perlu dijelaskan terlebih dahulu “makhluk” apakah itu Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Hal ini perlu diklarifikasi, karena masih banyak orang penting yang menanyakan ‘untuk apa Dewan Pendidikan dibentuk? Kan sudah ada Dinas Pendidikan?’ Pertanyaan seperti ini pun telah masuk ke Masdik.com dan laman pribadi www.suparlan.com. Oleh karena itulah maka dalam tulisan singkat ini perlu dijelaskan terlebih dahulu apakah Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah? Untuk ini, penanya ini perlu membaca sekali lagi tentang Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Eksistensi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah

Eksistensi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah secara resmi telah tertuang dalam Undang-Undang tersebut. Bahkan telah dijabarkan dalam PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Masdik.com bertanya dalam hati, kenapa gerangan rakyat di negeri ini begitu cepat melupakan semua bentuk ketentuan dan perundang-undangan yang diamanatkan oleh Pemerintah dan Rakyatnya. Padahal, undang-undang dan ketentuan tersebut adalah amanat rakyat. Suara rakyat adalah suara “TUHAN.” Memang Allah SWT tidak boleh diduakan dengan siapa pun, termasuk dengan rakyat. Itu namanya syirik atau menduakan Allah SWT. Menyekutukan Allah SWT dengan apa pun dan dengan siapa pun adalah dosa besar, yang tak terampuni. Masya Allah.

Pada tangggal 24 September 2016, Alhamdulillah saya dapat berjumpa kembali dengan Dewan Pendidikan Provinsi Bangka Belitung, setelah sekian tahun lama pengurusnya didemisioner oleh Gubernurnya. Bapak Suradi Suhud adalah salah seorang pengurusnya. Beliau adalah pelaku sejarahnya. Pada waktu itu, beliau terbata-bata menyampaikan berita tersebut di Gedung E Lantai 5 Kantor Bagian Perencanaan, Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbud, di Jakata. Setelah sejenak duduk di kursi yang saya ambilkan dari kursi Bu Diana, teman sebelah tempat duduk saya, beliau kemudian menceritakan dengan semangat begini. “Ada tsunami Pak Parlan, ada tsunami Pak. Ternyata ada tsunami di Bangka Belitung.” Maklum saya selalu meneriakkan yel-yel merdeka setiap kegiatan workshop Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Karena itu Pak Suradi masih terbawa untuk mengucapkan yel-yel tersebut.

Cerita tentang tsunami

Dengan semangatnya yang tinggi, Pak Suradi Suhud bercerita mulai dari A sampai Z tentang pencabutan SK Dewan Pendidikan Provinsi Bangka Belitung pada saat itu oleh Gubernurnya, sebenarnya bukan karena misalnya kinerjanya yang rendah, atau bukan karena tidak berfungsinya secara optimal, tetapi lebih karena soal dukung mendukung calon gubernur yang akan maju mengikuti pilkada pada saat itu. Karena soal dukung mendukung politik inilah maka Gubernur pada saat itulah telah melakukan demisioner SK Dewan Pendidikan. Ini merupakan contoh yang sangat kontekstual untuk menjelaskan tentang eksistensi dan tata hubungan antara Dewan Pendidikan dengan instansi yang terkait, termasuk dengan unsur birokrasi. Dalam PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan dijelaskan bahwa Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan birokrasi. Hubungannya adalah hubungan koordinatif. Oleh karena itu, posisi Dewan Pendidikan Provinsi bukan berada di bawah Gubernur. Posisi Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota bukan berada di bawah Bupati/Walikota, dan posisi Komite Sekolah pun bukan di bawah Kepala Sekolah. Bahkan antara Dewan Pendidikan Nasional, Dewan Pendidikan Provinsi, Dewan Pendidikan Kabupaten, dan Komite Sekolah pun juga tidak mempunyai hubungan hierarkis. Tata hubungannya adalah koordinatif dan kolaborasi atau kerja sama kemitraan.

Babak baru kepemimpinan yang sejuk

Kedatangan saya pada tanggal 24 September 2016 di Dewan Pendidikan Provinsi Bangka Belitung adalah babak baru kepengurusan setelah mengalami stagnasi. Dalam babak baru ini ketuanya adalah Prof. Dr. Bustami Rachman, M. Sc. yang telah memulai kegiatannya dengan mengadakan kegiatan Seminar Nasional Penguatan Dewan Pendidikan Provinsi Babel. Bahkan kegiatan seminar ini akan disusul dengan kegiatan FGD (forum group discussion) secara bergilir di Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota. Bukan untuk ikut-ikutan mengusung salah satu calon bakal bupati dan wakil bupati yang kini sedang menarik massa untuk menjadi orang nomor satu di kabupaten/kota. Kalau mau, posisi sebagai Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Babel sangat dekat dengan massa, karena Dewan Pendidikan adalah representasi dan wadah peran serta masyarakat. Justru beliau akan memosisikan diri secara adil dan netral. Pak Bustami yang menulis dalam riwayat hidupnya dengan motto ‘rajin dan jujur’ ini mengajak menyarakat agar lebih cerdas dalam memilih calon pemimpin nomor satu di kabupaten/kota ini. Bukan memilih dengan politik uang, tetapi memilih dengan hati nurani. Jika memilih dengan politik uang, ‘dikhawatirkan sang calon nanti akan mencari jalan untuk meminta ganti rugi yang lebih tinggi dengan cara yang tidak terpuji.’ Ini pantun yang saya ciptakan sembari menulis tulisan singkat ini. Maaf saya ingin menyontek puisi yang dirangkai oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bangka Belitung, Bapak Drs. Muhammad Sholeh, M.M sebagai berikut: Jika pergi ke kampung Melayu/singgah dulu ke kampung Jawa/jika ingin pendidikan kita maju – bermutu, Dewan Pendidikan dan Dinas Pendidikan harus bekerja sama. Pantun ini sangat pas dengan kata-kata mutiara yang sangat saya suka: ‘we are not looking for a superman, but we are looking for a super team.’ Kita tidak mencari seorang superman, tapi kita mencari tim yang super. Era teknologi informasi dan komunikasi bukan zamannya saling jegal-menjegal dan saling menang sendiri. Tapi zaman kita menciptakan kolaborasi untuk sukses bersama.

Kita hanya punya tiga hari efektif di dunia ini. Pertama adalah hari kemarin, yang sudah menjadi sejarah untuk kita pelajari. Kedua, hari besok yang kita semua belum/tidak tahu apa yang akan terjadi, dan ketiga adalah hari ini, untuk mengerjakan kebaikan bersama-sama. Do it now, do not delay.

Akhirul kalam, kita berharap mudah-mudahan era tsunami pada masa kepemimpinan Pak Suradi Suhud tinggal kenangan, yang mudah-mudahan amal beliau diterima Allah SWT sebagai amal kebaikan yang akan dibawa di hari akhir nanti. Insya Allah, Amin. Kepemimpinan Pak Bustami Rachman yang sejuk dengan motto rajin dan jujur sangat kita tunggu dengan kiprah-kiprah yang kreatif dan inovatif. Amin.

*) Laman: www.suparlan.com; Surel: me@suparlan.com. Portal Masdik.com.

 

Pangkalpinang, 25 September 2016.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.