Menghafal Sebagai Awal Pemahaman, Belum Implementasi

0
1214

Oleh: Suparlan *)

Masdik.com telah mengunggah tulisan yang sangat mengharukan. Sebagai orang yang didominasi oleh otak kanan, Masdik.com mengusap air mata ketika ada peserta didik berceloteh “mama-mama, saya sudah haji kan sekarang.” Sekitar 140 anak TK Islam Dian Didaktika (DD), Depok, Jawa Barat,  dilatih melaksanakan latihan manasik ibadah haji.

Seratus empat puluh anak-anak TK Islam Dian Dikdastika Kota Depok (9/10) telah selesai kegiatan latihan manasik haji bagi si kecil yang manis tersebut. Sungguh luar biasa telatennya para ibu guru yang telah membimbing anak-anak tersebut.

Para siswa putri mengenakan baju putih serta jilbab dan kaus kaki putih. Demikian juga yang laki-laki, mengenakan pakaian ikhram. Tambah lengkap lagi, masing-masing anak dilengkapi slayer kuning (putri) dan biru (putra) layaknya sebagai tanda calon jamaah haji Indonesia.

Menariknya, ruangan auditorium di-design layaknya Makkah yang terhampar padang tandus. Di tengah-tengah berdiri kokoh Ka’bah.  Ada padang arafah buatan tempat wukuf, bukit Shara Marwah untuk sa’i, jabal rahmah, musdhalifah, sumur zam-zam, dan lainnya. Di bagian lainnya, ditempati domba serta kambing. Wakil Kepsek TK Islam Dian Dikdaktika Susi Farida mengungkapkan, kegiatan manasik haji ini diselenggarakan dalam rangkaian Idul Adha. Setiap tahunnya DD secara intens menyelenggarakan kegiatan tersebut.

“Anak-anak kami ajari tentang makna ibadah haji dan berkurban‎ sejak usia dini. Mereka melaksanakan thawaf, sa’i, lontar jumroh, wukuf di arafah sampai puncaknya menyembelih hewan kurban,” kata Susi yang wali kelas TK B Penguin kepada JPNN, dan kemudian dicoba untuk dianalisis kaitannya dengan teori pendidikan dan praktik belajar mengajar.

Pertama, semua proses pelatihan itu benar. Itulah proses belajar mengajar dengan metode proyek. Bukan ceramah. Sama sekali bukan ceramah di depan kelas. Tentu memakan waktu yang cukup panjang, dan menggunakan media dan alat pendidikan. Inilah yang disebut juga disebut dengan metode CTL (contextual teaching and learning). Jangankan si kecil yan manis-manis itu yang mengikuti proses pembelajaran dengan bermain. Orang-orang tua pun masih suka dengan bermain. Bermain adalah hak anak-anak menurut UNESCO. Jangan pernah orang dewasa atau orang tua melarang si mungil itu untuk bermain. Dengan bermain dan juga bernyanyi, anak-anak terlihat sangat antusias mengikuti rangkaian latihan ibadah haji. Tak hanya anak-anak, orangtua yang ikut mendampingi pun ikutan haru melihat anak-anak mampu menghafalkan seluruh bacaan dalam manasik haji.‎

Kedua, terkait dengan usia anak-anak sebagai balita (bawah lima tahun) atau yang dikenal dengan masa-masa the golden ages atau masa-masa keemasan, memiliki kemampuan luar biasa. Potensi kecercasan majemuk dalam usia tersebut berkembang secara optimal. Usia lainnya boleh dikatakan tidak berkembang. Coba orang tua seperti kita dicoba bertanding dengan anak-anak TK yang berlatih manasik haji. Mereka akan dengan cepat menghafalnya surat dan ayat-ayat dengan cepat. Cucu Masdik.com bernama Raffi dengan cepat menghafal doa perjalanan ketika akan pergi ke rumah neneknya. Mami dan abehnya hanya mendengarkan dengan senang. Kakungnya malah nggak tahu apa-apa. Heee. Kakungnya bukan lulusan pesantren, tapi dari budaya Barat, yang baru ingin belajar mengaji. Secara saintifis, kita harus sadar bahwa mengingat belum cukup, karena belum melalui tahap penghayatan, pemahaman, dan penerapan (implementasi) menurut Benjamin S. Bloom. Tulisan tentang hal ini insyaallah akan kita bahas dalam Masdik.com yang akan datang. Insya Allah.

Memang kita harus mengucapkan “Subhanallah, nggak nyangka, semua bocah bisa menghafal bacaan-bacaan dalam ibadah haji. Thawaf, sa’i, lontar jumroh serta doa-doa lainnya dihapal semua,” kata Peksi, koodinator kelas TK B Penguin, jelas jpnn.com. Kegiatan ini‎ melatih anak-anak sejak dini bagaimana caranya melaksanakan ibadah haji dan berbagi dengan kaum dhuafa lewat berkurban. Apalagi penjelasan guru-gurunya sangat bagus dan mudah diserap anak-anak.Lucunya, usai melaksanakan rangkaian manasik haji, anak-anak spontan mengaku sudah haji.

“Mama-mama, saya sudah haji kan sekarang,” celetuk salah seorang siswa yang disambut tawa guru dan orangtua murid.

Referensi: http://www.jpnn.com/read/2016/09/09/466347/Subhanallah-nggak-Nyangka-Semua-Bocah-Sudah-Hafal-

Depok, 29 November 2013.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.