Sepak Bola dan Kecerdasan Majemuk

0
1617
71

 

 

Oleh:  Suparlan *)

 Adakah hubungan antara sepak bola dengan kecerdasan majemuk atau kecerdaan ganda (multiple intelligence)?  Pembaca mungkin akan menganggap aneh ketika ditanyakan tentang hubungan antara sepak bola dengan kecerdasan majemuk. Iya kan? Bahkan aneh sekali!

Hanya karena Indonesia baru saja kalah dengan Thailand dalam ajang kompetisi AAF di penghujung tahun 2016, lantas kita dengan cepat dapat menarik kesimpulan bahwa pemain sepak bole Thailand memang lebih cerdas dibandingkan dengan pemain sepak bola Indonesia. Buktinya pemain sepak bola Thailand akhirnya dapat mengalahkan dengan telak pemain sepak bola Indonesia dalam pertandingan sepak bola tersebut. Bukankah itu berarti pemain sepak bola Thailand memang jauh lebih cerdas dibandingkan dengan pemain sepak bola Indonesia. Artinya ada hubungan antara sepak bola dengan kecerdasan majemuk. Tentu saja hubungan tersebut terutama terkait dengan kecerdasan dalam tipe kinestetiknya, atau dalam bidang olah raganya. Oleh karena itu, pembaca jangan keburu cemberut, jika penulis dalam hal ini mengambil kesimpulan bahwa pemain sepak bola Thailand memang lebih cerdas dibandingkan dengan pemain sepak bola Indonesia. Sebagai anak bangsa negeri ini, sungguh penulis berharap yang sebaliknya, yakni dengan mengatakan bahwa pemain sepak bola Indonesia, seperti kecerdasan pemain-pemain bulu tangkis Indonesia yang telah dapat mengharumkan nama baik bangsa dan negaranya. Insya Allah.

Untuk menjelaskan hubungan antara sepak bola dengan kecerdasan majemuk, maka ada baiknya kita mempelajari teori Howard Garder dalam tulisannya berjudul Frame of Mind: Multiple Intelligence.

Menurut Howard Hardner, kecerdasan majemuk itu dapat dibedakan menjadi 9 (sembilan) tipe kecerdasan, yakni:

  1. (S) kecerdasan spasial atau gambar;
  2. (L) kecerdasan language atau bahasa;
  3. (I) kecerdasan interpersonal atau kecerdasan komunikasi;
  4. (M) kecerdasan musik atau seni suara;
  5. (N) kecerdasan naturalis atau cinta alam;
  6. (B) kecerdasan bodily kinestetik atau kecerdasan gerak badan;
  7. (I) kecerdasan intrapersonal;
  8. (L) kecerdasan logikal matematik ; dan
  9. (S) kecerdasan spiritual.

Kecerdasan yang ke-6 itulah yang disebut kecerdasan “bodily kinestetik”, atau kecerdasan dalam bidang fisik atau olah raga. Dalam kecerdasan tipe inilah Thailand  memiliki kecerdasan lebih dibandingkan dengan Indonesia. Oleh karena itu, wajarlah jika dalam tipe ini Thailand memang dapat disebut lebih cerdas ketimbang dengan pemain sepak bola Indonesia. Teori ini asli dari ahli pendidikan Howard Gardner berpendapat bahwa ibarat bunga, anak-anak memiliki warna kecerdasan yang beraneka ragam. Anak-anak bangsa memiliki warna-warna kecerdasan. Untuk menciptakan pemain olah raga yang tangguh yang dapat melebihi kecerdasan Thailand, Indonesia harus dapat memilih anak-anak bangsa yang memiliki kecerdasan dalam tipe bodily kinestetik untuk dibentuk anak-anak bangsa yang memiliki kecerdasan bodily kinestetik yang unggul. Kecerdasan itu sebagai potensi yang dibentuk melalui proses panjang. Bukan semacam ilmu klenik yang yang tahu-tahu dapat menggandakan kemampuan menjadi berlipat-lipat, dan menciptakan badan yang kuat dan dapat menendang bola dan menciptakan goal lebih cepat dengan pemain lawan. Kecerdasan adalah potensi yang harus dilatih dalam jangka waktu yang cukup lama melalui latihan demi latihan. Pembentukan kecerdasan kinestetik tidak cukup dengan melalui hayalan-hayalan, tetapi sebaliknya melalui pembentukan satu tingkat kecakapan menuju kecakapan yang lebih tinggi.

Jadi, yang dimaksud dengan kecerdasan pemain sepak bola Thailand dalam hal ini adalah kecerdasan bodily kinestetik. Kecerdasan para pemain sepak bola Thailand yang telah ditempa oleh para pelatih yang hebat. Tentu saja, para pemainnya sendiri harus siap menjadi pemain yang tangguh, yang siap dibina sejak kecil. Sebagai penggemar sepak bola, penulia mengamati dan mencermati bahwa sejak awal anak-anak telah dilibatkan di lapangan hijau mendampingi para pemain pada acara pembukaan pertandingan sepak bola, dengan tujuan agar anak-anak penggemar sepak bola kelak dimotivasi menjadi pemain yang tangguh, setangguh generasi sebelumnya. Demikianlah upaya untuk membentuk para pemain yang memiliki kecerdasan bodily kinestetik untuk menjadi pemain yang tangguh. Ketangguhan para pemain sepak bola tidak lain dan tidak bukan adalah dari hasil pembinaan kecerdasan kinestetiknya yang berkelanjutan (continuing process).

Sejak awal pertandingan, saya memang mengatakan bahwa pemain Thailand akan di atas angin (maksud saya menang). Dengan alasan karena para pemain sepak bola Thailand lebih dahulu memperoleh pembinaan secara berkelanjutan tersebut. Pembinaan yang berkelanjutan itulah yang melahirkan kecerdasan kinestetik, termasuk 9 kecerdasan lainnya. Kecerdasan itu bukan seperti turun dari langit, yang tiba-tiba membuat pemain Thailand langsung tiba-tiba menjadi cerdas. Termasuk bukan semata-mata karena reward system yang dijanjikan. Para pemain Thailand menjadi lebih cerdas karena menjalani latihan secara tertib sejak awal. Sama sekali bukan karena dapat durian runtuh dari langit. Jadi, saya melihat kecerdasan pemain Thailand bukan karena pemain Thailand memang sudah cerdas sejak awal latihannya. Kecerdasan pemain adalah merupakan hasil dari satu proses yang panjang. Bukan proses yang tiba-tiba, karena dengan memberikan reward yang tiba-tiba seperti Indonesia. Bukan karena reward yang tiba-tiba itulah yang justru menjadikan para pemain menjadi tiba-tiba menjadi lebih cerdas. Dengan kata lain, justru karena dengan cara pemberian reward yang tiba seperti durian runtuh itulah yang membuat pemain Indonesia menjadi lebih “cerdas” secara tiba-tiba. Itulah yang menyebabkan pemain Indonesia menjadi kalah, karena reward system itulah yang justru telah merendahkan kecerdasan kinestetik para pemain, karena penghargaan yang diperolehnya tidak menghasilkan kecerdasan yang asli  atau kecerdasan yang tulus (genuine). Reward system yang diberikan tidak dalam waktu dan tujuan yang tepat tidak akan menghasilkan dampak yang tepat, termasuk untuk melahirkan khususnya kecerdasan kinestetik, serta menumbuhkan 9 (sembilan) tipe kecerdasan majemuk yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

Untuk menutup tulisan ini, perkenankan saya menyampaikan kata-kata mutiara Ki Hadjar Dewantara: “Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiranm dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita” Semua itu harus berdasarkan konsep warisan Ki Hajar Dewantara “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa”

Font: 898

Laman: www.suparlan.com; E-mail: me@suparlan.com; Portal: masdik.com;

Depok, 3 Januari 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.