Gagal Menjadi Anggota Paskibraka di Istana

0
1354

Oleh: Suparlan *)

Nah, ini dia trending topic yang sungguh saya tunggu-tunggu. Trending topic semacam ini sangat tidak elok untuk tidak diunggah di laman pribadi dan portal pendidikan. Tidak elok itu bahasa orang Malaysia yang masih nempel di benak saya. Sekali lagi tidak elok. Minimal untuk pelajaran kita semua. Nah ini punya nilai edukatif. Saya juga harus mengikuti perkembangan kasus ini. Apakah anak cakep dari Bandung ini masih gagal untuk menjadi anggota Paskibraka di Istana? Kalau masih gagal, ya kebangeten di Menpora, dan lebih kebangeten lagi adalah Presidennya. Saya baru saja menulis tentang Kepedulian SBY dan Jokowi terhadap pendidikan. Jika kasus “gagal menjadi paskibra di Istana” ini masih tidak dapat diselesaikan secara bijaksana, lagi-lagi kebangetan. Kasus itu sangat penting. Sampai masuk dalam acara silaturahim terbuka dalam acara ILC (Indonesia Lowyer Club) dengan Pak Karni Ilyasnya. Kalau saya menjadi Presiden RT, sebagaimana yang telah saya tulis sebelumnya, saya pasti akan ikutkan Gloria menjadi anggota paskibra di Istana Kantor RT. Bukankah kini kita semua telah menjadi warga dunia, yang harus saling bekerja sama?

Paskibra Internasional atau Paskibra Antarbangsa

Dengan pengalaman ini, mungkin di masa mendatang, perlu dibentuk Paskibra yang anggotanya dari berbagai bangsa. Itulah perlunya kasus ini menjadi bahan pelajaran bagi semuanya. Allah jugalah yang telah mengaturnya. Tidak ada kejadian yang ada di luar skenario Allah SWT.

Sejauh yang dapat saya fahami, proses seleksi menjadi anggota Paskibra, tentunya sudah lama dilakukan. Pastinya proses tersebut sudah lama dilakukan dengan cermat. Kalau perlu, sebelum final, nama-namanya sudah dimintakan ‘petunjuk’ kepada Bapak Presiden dulu. Tapi eee, apa iya hanya proses itu tidak diberikan saya kewenangannya sampai ke tingkat menteri? Malah menurut saya diberikan kepada setingkat eselon II. Toh eselon II pun akan lapor ke eselon I! Sungguh berat rasanya kalau semuanya itu sentralisasi. Nah inilah kenyataannya. Kita memang sering didorong untuk minta petunjuk. Bukan didorong untuk “berdiri di atas kaki sendiri.” Itulah sebabnya peserta didik di negeri ini memiliki mental yang tidak mandiri. “So as the school, so as the state.”  Demikian apa yang terjadi di sekolah, demikianlah yang terjadi di negaranya. Sekolah adalah cermin keadaan negaranya, dan sebaliknya. Apa yang terjadi dalam sidang DPR dan MPR, demikianlah yang terjadi dalam sidang pendidikan di ruang kelas sekolah kita. Boleh jadi kursi dan meja di sekolah kita perlu diganti dengan kursi dan meja yang berbentuk bundar, agar peserta didik bisa mempraktikkan budaya kerja sama dan berkolaborasi dan membentuk tim-tim yang super. “We are not looking for a superman, but we are looking a super team.” Kita tidak mencari seorang superman, tetapi kita mencari tim-tim yang super. Hal demikian dipesankan oleh Unesco dengan empat pilar belajar, yakni 1) learning to know, 2) learning to do, 3) learning to be, dan 4) learning to live to gether atau 1) belajar untuk mengetahui, 2) belajar untuk mengerjakan, 3) belajar untuk menjadi diri sendiri, dan 4) belajar untuk hidup bersama.

Jadi kembali ke kasus gagal menjadi anggota Paskibra di Istana, kasus ini hendaklah dapat menjadi pelajaran untuk kita semua anak bangsa.

Pertama, usahakanlah agar Gloria Natapraja Hamel dapat menjadi anggota Paskibra di Istana, karena meskipun Gloria adalah memang seorang putri sang ayah, Didier berkebangsaan Perancis sedangkan sang ibu Ira Natapraja adalah warga Indonesia asal Subang. Tapi Gloria menyatakan dirinya adalah sebagai anak Indonesia. Wallahu alam, apakah pernyataan Gloria masih tidak berterima untuk menjadi anggota Paskibraka. Melalui tulisan ini, saya sambil mendengarkan suara televisi, bahwa Gloria TERNYATA tidak jadi menjadi anggota Paskibra. Karena pada tahun ini jumlah anggota Paskibraka bukan 68 orang, tetapi 67 orang, karena tidak termasuk Gloria. Sayang-sayang dan sayang. Dalam hal ini Kak Seto Mulyadi sebagai Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Seto Mulyadi menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai tidak adil terhadap gadis cantik itu. “Seolah disudutkan, dia harusnya diapresiasi karena mau mengibarkan Bendera Pusaka. Dia juga anak Indonesia. Apa pun itu, tidak usah terlalu dikait-kaitkan dengan hal yang sifatnya teknis sepeti itu. Yang penting jiwanya Indonesia. Pemerintah tidak adil, artinya jangan telalu kaku, ini anak-anak,” kata pria yang akrab disapa Kak Seto kepada merahputih.com, Selasa (16/8).

Kedua, jika kemudian kesimpulan kedua ini tidak dapat terjadi, biarlah Gloria dapat terus belajar di Indonesia untuk menjadai orang Indonesia yang sebenarnya. Gloria adalah anak semata wayang dari Ibunya yang berasal dari Subang.

 MENPORAMenteri Imam Nahrawi bersama Gloria Natapraja Hamel

Depok, 17 Agustus, 2016.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.