Presiden Jokowi Mengundang Para Profesor – 1

0
1067

Oleh: Suparlan *)

Mohon maaf. Yang saya hanya miliki sedikit kompetensi menulis seperti ini. Selain itu, saya memang hanya seorang mantan guru kecil. Tapi saya sama sekali bukan guru besar atau profesor. Jadi, kita semua, baik yang sudah profesor maupun yang bukan, harus memiliki nasionalisme dan optimisme yang tinggi untuk membangun bangsa. Selain itu, kita semua juga harus terus berdoa “mudah-mudahan Presiden RI Jokowi dapat mengajak para profesor diaspora ini kembali ke kampung halaman Indonesia untuk membangun Indonesia.”

Tulisan singkat ini mudah-mudahan dapat dibaca Presiden Jokowi, dan kemudian dapat menjadi masukan, meskipun hanya sedikit dari MASDIK.COM untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi, sebagaimana telah ditulis Asyumardi Azra. Saya memperoleh tulisan Azyumardi Azra dari Dharma Hutauruk melalui surel me@suparlan.com.

Marah Besar?

Dalam tulisan Azyumardi Azra dinyatakan bahwa Presiden Jokowi ‘marah besar’ karena orang-orang hebat, sebut saja profesor, dari Indonesia yang tinggal di negara lain itu tidak mau pulang ke tanah air, dan justru dimanfaatkan bangsa lain. Ketika tulisan Azyumardi Azra tersebut saya ceritakan kepada ibu-ibu di bus jemputan yang bersama-sama ke kantor, ada ibu yang merespon secara kritis “kenapa harus marah besar?” Bukankah Presiden Jokowi tinggal memerintah menterinya yang terkait dalam masalah tersebut? Atau dengan mudah mengangkat menteri baru sesuai hak prerogratif Presiden.

Tri Dharma Perguruan Tinggi

Jumlah profesor Indonesia di Amerika Serikat saja ada 74 orang. Belum lagi di negara lain seperti China, Jepang, Australia, Inggris, Prancis dan negara Eropa yang lain, serta negara Malaysia, Singapura, dan negara lainnya lagi. Presiden Jokowi ‘membayangkan’ jika orang-orang hebat tersebut dapat ikut ‘membangun’ daerah-daerah yang masih sedang berkembang di tanah air, misalnya Papua, Meraoke, dan daerah yang lain, dapat melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, dengan cara tidak hanya melalui kegiatan pendidikan dan pengajaran, tetapi juga membangun pusat-pusat penelitian, serta terjun langsung melaksanakan pembangunan masyarakat.

Impian Presiden Jokowi benar

Dalam tulisannya, Azyumardi Azra menyatakan bahwa angan-angan Presiden Jokowi memang benar. Para gurubesar, dosen dan tenaga ahli lain tersebut memang sangat dibutuhkan Indonesia dalam pembangunan berbagai bidang. Negeri ini rugi jika keahlian mereka justru dimanfaatkan negara lain sehingga menciptakan brain-drain, pengeringan otak pintar. Jika mereka kembali, Indonesia mendapat brain-gain, perolehan otak pintar. Indonesia rugi dengan adanya profesor dan dosen yang mengajar di negara lain, karena pemerintah telah mensubsidi mereka sejak TK, pendidikan dasar, menengah sampai dengan S1 atau S2. Meskipun kebanyakan mereka telah menyelesaikan studi S2 dan S3 dengan dana beasiswa negara atau universitas asing tempat mereka belajar, Indonesia tetap saja mengalami kerugian. Menurut data AMINEF/Fulbright sekitar 95 persen mahasiswa Indonesia yang berhasil menyelesaikan program S2 dan/atau S3-nya di Amerika kembali ke Tanah Air. Tingkat kembalinya ke Tanah Air (return rate) orang Indonesia yang tamat di Amerika, paling tinggi dibandingkan mereka yang berasal dari negara lain. Sisanya, jelas cukup banyak; di antara mereka ada yang memutuskan mengajar dan menetap di AS, yang menurut Jokowi sekitar 74 profesor. Banyak pula di antara mereka yang menekuni berbagai pekerjaan profesional lain di perusahan dan/atau lembaga riset pemerintah dan swasta.

Kenapa tetap saja ada orang Indonesia yang kemudian memilih menjadi profesor atau dosen di berbagai universitas di Amerika atau bekerja di sektor lain dan kemudian tidak mau kembali ke tanah air? Banyak faktor, antara lain: gaji yang relatif besar, jenjang karir yang jelas dan adil (fair), otonomi dan kebebasan mengajar dan berkarya akademis, dan fasilitas anggaran riset dan sarana memadai untuk berkarya.

Dilihat dari segi ini, menjadi pertanyaan besar apakah para profesor yang mengajar di berbagai tempat di luar negeri, bersedia ikhlas kembali ke  Tanah Air? Apakah idealisme belaka untuk membangun negeri cukup menjadi faktor penarik (pull factor) bagi mereka meninggalkan tempat mereka bekerja di negara lain untuk kemudian mengabdi di Papua atau di tempat-tempat lain di Tanah Air yang memerlukan akselarasi pendidikan tinggi dan pembangunan. Jawabannya agak bernada skeptis dan pesimistis. Karena itu, Presiden Jokowi boleh bersiap-siap untuk kecewa jika harapan dan angan-angannya tadi tidak terpenuhi.

Keluar dari zona nyaman

Kemungkinan kekecewaan Presiden Jokowi itu berdasarkan kenyataan, atau sedikitnya ada kecenderungan bahwa profesor Indonesia (bersama dosen yang belum mencapai derajat tertinggi ini) agaknya merupakan kelompok ahli yang akan menghadapi karir dan kehidupan lebih sulit. Dengan berbagai macam kesulitan yang mengandung  ketidakpastian masa depan, gurubesar dan dosen yang kini mengajar di luar negeri tersebut agaknya mesti berpikir berkali-kali sebelum mengambil keputusan untuk kembali ke Indonesia. Kesulitan-kesulitan gurubesar dan dosen di Indonesia tersebut antara lain bersumber dari berbagai kebijakan birokrasi yang dikeluarkan pemerintah, dalam hal ini Kemenristek-Dikti, terhadap profesor alias gurubesar yang hari demi hari semakin membelenggu. Dengan belenggu yang kian ketat itu, nampaknya semakin sulit bagi para profesor dan dosen lain bisa melepaskan diri. Oleh karena itu, mereka akan wait and see, artinya  mereka tidak akan bersikap proaktif untuk berani mengambil resiko mengabdi untuk NKRI. Sebaliknya yang terjadi adalah ketidakberanian para profesor dan tenaga ahli yang akan kembali mengabdi NKRI adalah karena dibelenggu oleh perasaan ketakutan akan keluar dari zona nyaman selama di negara lain. Sebaliknya, tidak ada harapan yang tinggi yang akan diperoleh dari NKRI, misalnya berupa kebijakan yang adil yang diperoleh selama ini. Jokowi sendiri berpendapat bahwa untuk berhasil, justru kita harus berani keluar dari zona nyaman.

Depok, 29 Agustus 2016.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.