Dukungan PGRI Terhadap Pendidikan Karakter

0
1772

Oleh: Suparlan *)

Dukungan itu memang penting. Bahkan sangat penting. Tapi yang terpenting adalah bukan dukungan tetapi program dan kegiatan untuk meningkatkan kompetensi para guru. Dukungan PGRI kepada para guru, seperti guru SMKN I Makassar yang dipukul oleh orang tua siswa jauh lebih penting lagi. Oleh karena itu, Masdik.com pernah menyapa PGRI “mana suara PGRI” dan organisasi profesi guru yang lain? Perlu diketahui, sekarang ini guru di negeri ini tersebar di beberapa organisasi guru. Oleh karena itu diperlukan kolaborasi dengan semua organisasi guru. Kolaborasi tersebut sudah barang tentu sangat penting untuk menyamakan persepsi guru tentang dukungan apa yang harus diberikan kepada Mendikbud yang baru.

Apa artinya sebuah nama

Perlu diketahui bahwa sebenarnya Pendidikan Karakter telah diluncurkan oleh Menteri Muhammad Nuh bertepatan dengan Hardiknas 2 Mei 2010. Bahkan, pada saat Anies Baswedan diangkat Presiden Jokowi menjadi Mendikbud, berdasarkan dengan Nawa Cita, Mendikbud yang baru diangkat tersebut, ketika mengotak atik tentang Kurikulum 2013, juga telah meluncurkan program Penumbuhan Budi Pakerti. Spanduknya pun masih nempel dan terpampang di pintu masuk Kemdikbud. Kini Mendikbud Muhadjir Effendy meluncurkan PPK (Program Penguatan Karakter). Oleh karena itu, perubahan program satu dengan program yang lain dengan dengan nama yang berbeda tersebut jelas akan memperkuat pemahaman masyarakat “Ganti Menteri Ganti Kebijakan.” Lalu, apakah yang dikehendaki dengan perubahan antara Pendidikan Karakter yang telah diluncurkan oleh Menteri Muhammad Nuh dengan Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) yang diprogramkan oleh Mendikbud Anies Baswedan, serta Program Penguatan Karakter (PPK) yang disampaikan oleh Mendikbud Muhadjir Effendy kepada Plt. Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi? Para guru di lapangan memerlukan pencerahan dari Mendikbud tentang perubahan program-program tersebut.

Roadmap Program Penguatan Karakter

Di samping itu, untuk melaksanakan Program Penguatan Karakter (PPK) tersebut, sudah tentu memerlukan road mapnya dari mana menuju ke mana secara jelas? Para guru yang berdiri di garda terdepan proses pendidikan di semua satuan pendidikan sekolah, pasti harus dibantu oleh pendidikan keluarga pastilah akan memerlukan juknis ataupun juklak untuk pelaksanaan kebijakan dan program tersebut. Disebutkan di media sosial bahwa PPK dilaksanakan di sekolah dengan proporsi untuk SD 70 persen dan SMP 60 persen. Apakah hal tersebut dengan prosentase kurikulum diberikan di satuan pendidikannya, ataukah kegiatan-ketiatan ekstrakurikuler untuk mendukung kebijakan full day school (FDS)? Atau sekarang ini banyak orang tua siswa yang tertarik untuk menyekolahkan anaknya ke MI, MTs, dan MA, karena diperlukan mata pelajaran tambahan di sekolah-sekolah tersebut perlu penguatan dengan kegiatan mengaji peserta didik. Ada teman anggota STI (Senam Tera Indonesia) yang menyekolahkan anaknya ke SMPIT (Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu) Ar-Rahmaniah di Depok. Orang tuanya sangat antusias dengan pendidikan karakter di sekolah ini. Anaknya juga bersemangat karena ada penguatan dalam bidang teknologi informasi dan kegiatan agama di sekolah ini. Tidak memerlukan perubahan alokasi proses KBM (kegiatan belajar mengajar), tapi perlu penguatan kegiatan. Bukankah formula kurikulum menurut Prof. Dr. Engkoswara dari Universitas Pendidikan Indonesia adalah “sigma mata pelajaran ditambah dengan kegiatan-kegiatan yang dirancang oleh sekolah.”  Nah kegiatan-kegiatan tersebut perlu dikuatkan dengan pendidikan karakter.

Kelebihan SMPIT dengan SMP biasa

Ketika saya tanyakan mengapa tidak disekolahkan di SMP Negeri? Jawabannya adalah karena tidak perlu ngajari ngaji lagi. Jawaban yang praktis dan sangat idealis. Terus terang, saya menyetujuinya. Itu pengalaman pribadi sendiri, yang kecewa karena anak-anak saya sangat kurang dalam masalah agama. Meskipun Masdik.com juga memahamai bahwa bacaan surat dan ayat-ayat diberikan memang masih berorientasi kepada hafalan dan belum sebagai pemahaman, Ya begitulah yang terjadi. Masdik berharap itu merupakan langkah awalnya. Masdik.com yakin bahwa yang benar adalah pendapat Paulo Freirie, yakni bapak pendidikan Brazil yang menegaskan bahwa “reading is not walking on the words, but reading is grasping the soul of them.” Membaca bukan hanya berjalan di atas kata-kata, tapi membaca adalah menangkap jiwa kata-kata tersebut. Mungkin PGRI lebih baik mendukung Mendikbud agar melakukan penyatuan pendidikan sebagai satu sistem. Dualisme pendidikan di Indonesia sudah berulang kali terjadi. Pernah pendidikan dasar  menjadi rebutan antara Departemen Dalam Negeri (Depdagri) dengan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Yang masih terjadi adalah adalah dualisme pendidikan yang berada di Kemenag dengan pendidikan di Kemdikbud. Ini masalah besar, karena terkait dengan masalah politik pembagian jatah menteri. Ketika Masdik.com pernah di negeri jiran tersebut selama lima tahun. Masdik.com memahami bahwa di Malaysia tidak terjadi masalah dualisme Pendidikan Agama d an Pendidikan Umum. Istilah Pendidikan Agama dan Pendidikan Umum tidak terdapat dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Akhirul kalam

Sekali lagi Masdik.dom sepakat jika PGRI mendukung Mendikbud untuk melaksanakan Program Penguatan Kurikulum (PPK), karena Masdik.com memahami bahwa pendidikan otak tidak ada apa-apanya jika tidak disertai dengan pendidikan jiwa. Oleh karena itu Masdik.com juga seratus prosen dengan dukungan terhadap Mendikbud untuk menambah proporsi pendidikan karakter tanpa harus merombak kurikulum. Apalagi Kurikulum 2013 memang didesain sebagai kurikulum yang bersifat tematik dan integratif. Di samping itu, Masdik.com juga sependapat dengan PGRI juga mendukung Mendikbud untuk menciptakan suasana belajar mengajar yang aman dan kondusif, karena delapan pilar sekolah efektif menurut CCES (California Centre for Effective School) salah satu pilarnya adalah suasana sekolah yang aman dan kondusif.  Yang terakhir, Masdik.com juga sependapat dengan PGRI untuk mendukung Mendikbud untuk menerapkan sekolah sebagai rumah kedua para siswa, dengan catatan bahwa bapak dan ibu adalah tetap menjadi guru pertama dan utamanya. Last but not least, “Pendidikan karakter merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam dalam proses pendidikan dan kebudayaan, dan menjadi bagian dalam proses belajar mengajar di sekolah,” tandas Unifah. Dukungan terhadap konsep tersebut sudah pasti akan disepakati oleh semua pemangku kepentingan pendidikan di negeri ini.

Untuk semua dukungan tersebut, Masdik.dom meminta dengan sungguh-sungguh dapat membahas butir-butir tulisan ini dengan semua organisasi guru di Indonesia, agar semua organisasi guru tersebut memiliki satu suara yang sama dari kedua belah pihak, yakni pihak birokrasi pendidikan dan masyarakat. ‎‎

Referensi: http://www.jpnn.com/read/2016/09/09/466246/PGRI-Dukung-Pendidikan-Karakter-Anak-

Jakarta, 9 Oktober 2016.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.