Fenomena Kanjeng Taat Pribadi dan Tingkat Keberagamaan Kita

0
1367

By: Suparlan *)

Laman: www.suparlan.com; Portal: masdik.com

 

Abstraksi: Pertama kali, mohon maaf jika dalam tulisan ini saya mengambil kesimpulan sementara bahwa tingkat keberagamaan kita umat di negeri tercinta ini sebenarnya masih sama dengan tingkat keberagamaan Kanjeng Taat Pribadi tersebut. Standar ukurannya adalah Kanjeng Taat Pribadi yang saya ketahui dari media sosial. Kesimpulan itu disebut sebagi kita, karena kesimpulan tersebut termasuk diri penulis. Sekali lagi mohon maaf karena seakan-akan saya bisa menilai tingkat keberagamaan kita. Tingkat keberagamaan tersebut hanyalah berdasarkan kesan sesaat. Sama sekali tidak berdasarkan penilaian akademis saintifik. Oleh karena itu, ketimpulan tersebut tidak termasuk para ulama atau siapa saja yang yang sudah mencapai tingkat yang telah mencapai jauh lebih BERIMAN DAN BERTAQWA KEPADA ALLAH SWT. Sekali lagi mohon maaf. Terus terang keberagamaan diri pribadi ini berasal dari tingkat keberagamaan yang dipengaruhi oleh FAHAM KEJAWEN, FAHAM ANIMISME DAN DINANISME seperti yang dipraktikkan oleh Kanjeng Pribadi tersebut. Sebagai contoh, seorang dosen di satu fakultas sangat percaya dengan kesaktian para leluhur lengkap dengan kerisnya. Maaf, saya sendiri membawa warisan keris dari kakek dan nenek saya. Senjata berwujud kudi itu saya simpan dalam almari saya. Dosen tersebut peraya kepada kesaktian para tokoh sejarah yang bisa melarikan diri dengan menjebol tembok penjara yang dijaga oleh para serdadu Belanda. Karena kesaktiannya, bukan karena cara berfikirnya atau strateginya untuk dapat mengelabui serdadu Belanda. Kepercayaan ini begitu mendalam. Bahkan mengalahkan kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa, yang nota bene menjadi syirik, yang dosanya tak akan terampuni oleh-Nya. Memang proses akulturasi telah lama terjadi di negeri ini, sehingga menjadi bangsa dan negara tercinta ini. Para penggiat agama tempo dulu pun menggunakan strategi akulturasi untuk menyebarkan dan meningkatkan keberagamaan ini. Pada zaman Raden Patah pada awal masuknya Agama Islam ke negeri ini telah menggunakan strategi akulturasi tersebut. Saya pernah diskusi singkat dengan beberapa orang di Nusa Tenggara Barat yang telah menjelaskan bahwa di Nusa Tenggara Barat masih terdapat ISLAM WATU TELU yang percaya bahwa Salat itu dilakukan dengan Salat Subuh, Maghrib dan Isa saja, karena waktu Dhuhur sampai Ashar kita harus bekerja. Sementara itu, kita juga mengetahui bahwa bekerja juga dinilai sebagai ibadah. Siapa saja dapat bercaya atau tidak percaya dengan isi tulisan ini atau pandangan ini atau kesimpulan tulisan ini. Silahkan sampaikan pandangan tersebut melalui laman www.suparlan.com dan portal pribadi masdik.com. Tulisan dalam laman pribadi dan portal yang diunggah dalam laman dan portal ini merupakan pendapat dan pandangan pribadi, yang masih terbuka untuk didiskusikan oleh semua pihak. Insya Allah. Amin.

Kata-kata Kunci: Kanjeng Taat Pribadi, tingkat keberagamaan, ISLAM WATU TELU, akulturasi budaya. Anismisme, Dinamisme.

Pendahuluan

NKRI telah merdeka 71 tahun lamanya. Sejak proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Sukarno Hatta, negara dan bangsa Indonesia secara politis telah merdeka 71 tahun lamanya. Kemerdekaan itu bukan main-main, karena kemedekaan itu diakui oleh banyak negara yang tergabung dalam organisasi PBB, dan Indonesia menjadi anggota PBB. Tapi secara berseloroh, mantan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Suyanto, Ph. D, menanyakan “Kapankah kita merdeka lagi?” Pertanyaan ini juga bukan hanya pertanyaan main-main, karena pertanyaan tersebut telah disampaikan oleh seorang professor dalam sebuah puisi yang ditulisnya sendiri. Selain itu, pertanyaan itu sesungguhnya menanyakan tentang kemerdekaan Indonesia secara kualitatif, antara lain menanyakan apakah sesungguhnya Indonesia telah merdeka bukan dalam aspek politis, tetapi aspek yang lebih luas, misalnya merdeka dalam bidang pendidikan, dalam arti semua anak bangsa sudah melek huruf, sudah menikmati manisnya buah pendidikan? Penulis sering menulis kata-kata dalam buku bahwa “The root of education is bitter, but the fruit is sweet.”

Tujuh Puluh Satu Tahun Kemerdekaan Indonesia

Sampai dengan usia 71 tahun, negeri ini mengaku sebagai negara yang demokratis, bukan negara otokrasi, apalagi negara teokrasi. Oleh karena itu, sama sekali Indonesia tidak dapat menamakan diri yang berdasarkan agama apa pun. Tidak sama dengan negara Malaysia yang berdasarkan Islam, tetapi Malaysia tetap dapat hidup rukun dan damai dengan umat beragama apa pun juga, serta etnis apa pun juga. Indonesia memang dapat hidup rukun dengan konsep negara multikultural, dengan kewajiban mengamalkan ajaran agama masing-masing. Inilah nilai karakter pertama dalam 18 (delapan belas) nilai-nilai karakter menurut Pusat Kurikulum, Balitbang Dikbud. Nilai religius dalam Pendidikan Karakter di negeri ini tidak mengurangi penduduknya untuk mengamalkan syariat agamanya. Oleh karena itu, tingkat keberagamaan penduduknya haruslah sesuai dengan syariat agama yang diperluknya, misalnya tidak berlaku musrik, tidak menduakan Allah SWT, sesuai dengan agama yang kita peluk. Bahkan negeri ini nyaris menggunakan Pancasila dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya. Sesunggnya dasar negara ini sama sekali tidak membatasi pemeluk agama lain untuk tidak menjalankan ajaran agama sesuai dengan agama yang diyakininya. Dasar negara ini sesungguhnya sudah menganut azas toleransi. Tapi Piagam Jakarta ini sudah tidak berlaku lagi, karena toleransi Umat Islam yang luar biasa. Kalau Umat Islam masih dikatakan sebagai Umat yang tidak toleran, maka sebenarnya yang tidak toleran itu adalah oknumnya. Sama sekali bukan ajarannya. Karena ajaran Islam adalah RAHMATAN LIL ALAMIN. RAHMAT BAGI SEKALIAN ALAM. Kita tidak perlu menoleh ke belakang. Yang berlalu biarlah berlalu.

Sesuai dengan tema tulisan ini, yang terpenting adalah BAGAIMANA MENINGKATKAN NILAI-NILAI KEBERAGAMAAN KITA, atau MENINGKATKAN KEIMANAN DAN KETAKWAAN KEPADA ALLAH SWT. Bahkan dengan 18 nilai-nilai pendidikan karakter yang lain berikut ini, kita akan dapat hidup rukun dan damai. Delapan belas nilai tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 1: 18 Nilai Pendidikan Karakter Menurut Puskur Dikbud

No Pilar Nilai Deskripsi
1 Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2 Jujur Perilaku yang dilaksanakan dalam upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan
3 Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4 Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5 Kerja keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6 Kreatif Berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan sesuatu yang telah dimiliki.
7 Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8 Demokratis Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9 Rasa Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10 Semangat Kebangsaan Cara berfikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bansga dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11 Cinta Tanah Air Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik dan bangsa.
12 Menghargai Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuai yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13 Bersahabat/Komunikatif Tindakan yang memperhatikan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14 Cinta Damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15 Gemar membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16 Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17 Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarajat yang membutuhkan.
18 Tanggung Jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap dirinya.

 

Sumber: Pusat Kurikulum, Balitbang Dikbud.

Fenomena Kanjeng yang kita bahas dalam tulisan ini, terutama yang terkait dengan pilar pendidikan karakter, yakni religius, sesungguhnya tidak hanya menyangkut aspek sosial ekonomi, tetapi lebih berkenaan dengan keberagamaan, khususnya tentang keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan menggunakan kepercayaan yang bersifat musrik, seperti menggandakan uang dengan berbagai modus kebohongan. Bahkan modus itu dilakukan dengan tujuan untuk melaksanakan dosa, yakni melakukan pembunuhan. Jika pembunuhan tersebut secara hukum dilakukan dengan pembunuhan berencana, maka huukumnya sama memiliki kaidah “nyawa dengan nyawa.” Audzubillah.

Sayangnya, masyarakat awam dengan mudahnya dapat dibohongi oleh Kanjeng, bahkan dibahongi untuk kemudian dihabisi oleh anak buah Kanjeng. Media sosial telah banyak menjelaskan tentang praktik-praktik kemusrikan yang dilakukan oleh Kanjeng Dimas Taat. Penulis sendiri sebenarnya tidak akan menyampaikan praktik-praktik kebohongan yang berbau klenik yang dilakukan oleh Kanjeng Dimas Taat. Kekhawatiran untuk menyampaikan hal ini karena dapat berbau SARA.Tapi penulis percaya bahwa yang disampaikan melalui tulisan ini semata-mata terkait dengan tujuan pendidikan, yakni mengubah tidak tahu menjadi tahu, yang tidak benar menjadi benar. Setidaknya mengajak untuk diskusi untuk membahas dan menemukan nilai-nilai kebenaran yang harus dijunjung tinggi.

Menggandakan uang bertentangan dengan nilai kerja keras

Jika kita berbicara dengan penggandaan uang oleh Kanjeng Dimas Taat Pribadi, maka hal ini jelas bertentangan dengan nilai kerja keras. Seharusnya masyarakat memahami bahwa untuk memperoleh uang tersebut haruslah melalu kerja keras, bukan dengan penggandaan uang. Apalagi penggandaan uang tersebut diwarnai dengan praktik klenik yang bersifat musrik dengan menyebut-nyebut adanya kekuatan jin. Praktik semacam ini sebenarnya dapat terjadi karena masyarakat tidak biasa berfikir logis dan kritis. Masyarakat hanya biasa menggunakan pertanyaan tingkat rendah (apakah, siapakah, dimanakah, kapankah) dan tidak biasa menggunakan HOTS (higher order thinking skills) atau cara berfikir dengan kecakapan berfikir tingkat tinggi, seperti MENGAPA DAN BAGAIMANA.

Itulah sebabnya masyarakat mudah menerima HANYA BIASA MENGGUNAKAN KECAKAPAN BERFIKIR TINGKAT RENDAH. Untuk tulisan berikutnya isyaallah akan dilanjutkan tulisan dengan judul MENGAPA HOTS ITU PENTING? Seharusnya 18 pilar pendidikan karakter tersebut dapat dibahas tuntas. Boleh jadi dibahas dalam sebuah buku yang tebal. Insyaallah. Ada beberapa pilar lain yang terkait dengan praktik menyimpang yang telah dilakukan oleh Kanjeng Taat Pribadi untuk penutup tulisan ini. Bahkan saya juga bisa mencari kemungkinan adanya korelasi tetang jumlah terbesar penduduk buta aksara di Jawa Timur, khususnya di kawasan tapal kuda dengan praktik klenik yang dilakukan oleh Kanjeng Taat Pribadi.

Disiplin Hidup dan Diplin Mati

Pada umumnya kita melaksanakan disiplin karena ditakut-takuti. Awas kalau membolos, akan saya beri nilai nol besar nanti. Disiplin ini dikenal dengan disiplin mati atau melakukan sesuatu karena rasa takut, bukan karena kesadaran tentang pentingnya rajin masuk sekolah, yakni untuk menguasai ilmu yang diajarkan. Termasuk disiplin untuk mengamalkan ajaran agama. Pertanyaan tingkat tinggi sangat penting, yakni MENGAPA KITA HARUS BERDOA? Jawabannya pada umumnya karena TAKUT DIMASUKKAN KE DALAM NERAKA. Padahal seharusnya karena kesadaran bahwa MANUSIA DAN JIN ITU MEMANG BERKEWAJIBAN UNTUK BERIBADAH KEPADA ALLAH SWT.  Disiplin inilah yan kita sebut sebagai DISIPLIN HIDUP dan bukan DISIPLIN MATI.

Jujur

Jujur adalah pilar pendidikan karakter dari delapan belas pilar yang disebutkan dalam tulisan ini. Saya tidak akan berhenti untuk mengungkapkan kelemahan 45 butir pengamalan Pancasila, yang ternyata tidak mempunyai butir JUJUR.

Pilar karakter jujur seharusnya diturunkan dari ketentuan yang lebih tinggi, misalnya Keputusan MPR tentang 45 butir pengamalan Pancasila. Sayangnya, butir ini tidak ada. Butir pengamalan Pancasila secara implisit ada dalam Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Seharusnya bukan secara implisit, tetapi harus secara eksplisit. Seorang teman mengatakan bahwa “nilai jujur” tersebut sudah ada dalam Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Seharusnya tidak implisit, tapi eksplisit, karena nilai jujur itu merupakan penjabaran Sila Pertama Pancasila.

Simpulan

Kebiasaan menggunakan HOTS (higher order thinking skills) mempunyai nilai positif untuk dapat berfikir logis dan kreatif. Masyarakat yang biasa menggunakan cara berfikir pada tingkat rendah, pada umumnya cenderung mudah menyerah kepada untuk melaksanakan sesuatu yang diarahkan oleh orang lain. Misalnya arahan dari Kanjeng Dimas Taat untuk mengikuti apa yang diminta. Sebaliknya kebiasaan menggunakan cara berfikir tingkat tinggi (mengapa dan bagaimana) akan menjadi budaya untuk berfikir secara kritis dan tidak mudah mengikuti apa yang diharapkan oleh pihak lain.

Tingkat keberagamaan kita mudah-mudahan tidak setaraf dengan keberagamaan yang percaya kepada ilmu klenik seperti yang dilakukan oleh Kanjeng Dimas Taat Pribadi, apa lagi lebih rendah. Audzibillah. Pendidikan Agama kita jangan jangan bersifat taklid yang hanya menggunakan cara berfikir rendah. Sebaliknya kita menggunakan HOTS (higher thnking skills). Amin.

Perilaku Kanjeng yang menyimpang tersebut perlu diteliti lebih lanjut dari aspek ilmu pengetahuan, seperti psikologi sampai dengan ilmu-ilmu lain yang terkait melalui lintas ilmu pengetahuan, termasuk dari sisi Multiple Intelligence. Wallahu alam.

Bahan Pustaka:

Suparlan, 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat.

Suparlan, 2012. Praktik-Praktik Terbaik Pelaksanaan Pendidikan Karakter, Yogyakarta: Hikayat.

Suparlan, 2004. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Yogyakarta: Hikayat.

Suparlan, 2016. Human Being and Writing. Masdik.com.

 

Depok, 15 Oktober 2016.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.