Nabi Muhammad, Islam, dan China

0
2729
Kaligrafi Nabi Muhammad SAW
Kaligrafi Nabi Muhammad SAW

NABI MUHAMMAD, ISLAM, DAN CHINA

Oleh: Prof. Sumanto Al Qurtuby

Ditulis kembali sesuai dengan EYD oleh: Suparlan *)

Banyak orang bertanya-tanya tentang mengapa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China.” Hadis ini sangat populer, baik di kalangan Umat Islam sendiri, maupun di kalangan umat non-Muslim. Hadis tersebut menimbulkan pro-kon. Bagi yang pro, mereka mengatakan bahwa justru hal tersebut menjadi bukti bahwa Islam itu adalah agama yang terbuka dan tidak membatasi kaum Muslim untuk belajar di mana saja dan kepada siapa saja. Kalangan yang pro mempunyai dukungan bahwa “semua tempat adalah sekolah; semua orang adalah guru; dan semua buku adalah ilmu.” Sementara bagi yang kontra, mereka beralasan bahwa tidak mungkin kalau Nabi Muhammad menyuruh umat untuk belajar ke China yang nota bene negara yang ateis-komunis. Mungkinkah Nabi Muhammad telah khilaf dalam hal ini? Meskipun Nabi Muhammad SAW memang sebagai manusia yang dapat khilaf dan salah, tidak mungkin Nabi Muhammad melakukannya.

Saya hanya mesam-mesem memperhatikan argumen tersebut. Karena itu marilah kita coba menganalisis secara rasional terhadap kejadian tersebut. Pertama, dalam sejarah dunia, kita mengetahui bahwa China adalah negara yang berperaradaban tinggi setaraf dengan negara-negara lainnya seperi India, Arab, dan sebagainya. Seperti umumnya negara-negara besar lainnya, China menjadi ajang penaklukkan berbagai kelompok. Berbagai imperium dan dinasti juga pernah silih berganti memerintah China: Qing, Yuan, Ming, Song, Tang, Han, Qin, dsb. Nabi Muhammad lahir di Mekah pada 570 dan wafat di Madinah tahun 632. Pada zaman Nabi Muhammad ini, China berada di bawah Dinasti Tang yang kelak digantikan oleh Dinasti Song. Pada masa Dinasti Tang (juga Song) inilah, China mengalami “Zaman Keemasan” (the Golden Age) karena maju pesat di berbagai bidang: pendidikan, seni, sastra, budaya, politik-pemerintahan, ekonomi, teknologi, dlsb. Ibukota Dinasti Tang, Chang’an (kini Xi’an), menjelma menjadi kota kosmopolitan dan pusat peradaban yang masyhur kala itu. Banyak sastrawan, sarjana, dan ilmuwan hebat lahir pada masa ini. Pendiri Dinasti Tang, Kaisar Gaozu dan penerusnya Kaisar Taizong, adalah kunci di balik kemajuan dan kemasyhuran dinasti yang berkuasa saat itu.

Jauh sebelum Max Weber mengenalkan konsep “birokrasi rasional”, Dinasti Tang sudah mempraktikkan rekruitmen model seleksi berbasis kapabilitas, intelektualitas, dan kompetensi. Bukan berdasarkan relasi tradisional atau relasi feodal-primordial. Dinasti Tang pulalah yang memajukan relasi perdagangan dengan Arab, Persia, Maroko dan Afrika Utara dan Barat lainnya melalui Jalur Sutera (Silk Road). Pada waktu itu, Dinasti Tang menyediakan area pemukiman khusus, bernama Fan Fang, untuk menampung para pedagang dan pelayar dari Timur Tengah dan Afrika ini.

Pada masa Dinasti Tang inilah terjadi kontak pertama kali China dengan Islam. Meskipun Nabi Muhammad belum pernah ke China waktu itu tetapi kemasyhuran dan kemajuan China sudah terdengar ke berbagai kawasan Arab yang dibawa oleh para pedagang dan pelayar ini. Jeddah yang berada di wilayah Mekah adalah pusat perdagangan dan pelayaran di Jazirah Arabia. Jadi sangat wajar sekali kalau kemudian beliau menyuruh kaum Muslim untuk belajar dan menempuh ilmu meskipun sampai ke Negeri China (Bahasa Arab: Shin). Kelak, sahabat Nabi Muhammad, Khalifah Usman bin Affan, menunjuk Sa’ad bin Abi Waqash untuk memimpin delegasi kaum Muslim ke China guna menjalin persahabatan dengan Dinasi Tang. Bahkan beliau konon wafat dan dimakamkan di China yang makamnya hingga kini masih ramai diziarahi banyak umat Islam. Oleh karena itu, tidak heran jika China merupakan salah satu “rumah Muslim” yang sangat tua. Chinese Annals dari Dinasi Tang (618-960) juga mencatat adanya pemukiman umat Islam di Kanton, Zhangzhouw, Quanzhou dan pesisir China Selatan lain. Bukti historis yang tidak terelakkan tentang eksistensi kaum Muslim China adalah adanya dua buah masjid kuno di Kanton (Masjid Kwang Tah Se = “Masjid Bermenara Megah” dan Masjid Chee Lin Se=“Masjid Bertanduk Satu”) yang menurut beberapa sejarawan ahli studi China seperti Lo Hsiang Ling, Ibrahim Tien Ying Ma, Broomhall, dsb, merupakan masjid kedua tertua di dunia setelah Masjid Nabawi yang dibangun Nabi Muhammad di Madinah. Masjid Kwang Ta Se di Kanton itu bahkan konon merupakan masjid pertama yang dibangun di luar kawasan jazirah Arabia! Subhanallah. Takbir…. Allahu Akbar.

Kedua, perlu kita ketahui bahwa negara China, baru menjadi “negara komunis” pada 1947-1949, ketika Mao Zedong (Mao Tse Tung) mengibarkan bendera Partai Komunis China (berdiri pada 1921) berhasil memimpin revolusi politik yang memaksa menaklukkan Partai Nationalis China, Kuomintang (Gomindang) yang sebelumnya menguasai “Negeri Panda” ini. Sebelum era itu, tidak ada komunisme di China atau Tiongkok. Jadi …. ya tidak nyambunglah kalau menyangkal Hadis tersebut lantaran China itu Komunis. Karena pada zaman Nabi Muhammad, negara China belum menjadi negara komunis. Berdasarkan kedua analisis tersebut kita dapat memperoleh kesimpulan bahwa Hadis Nabi Muhammad tersebut memang benar adanya.

KAMUS KECIL:

 

Inggris/Bahasa asing Bahasa Indonesia
birokasi rasional rekuitmen berbasis kapabilitas, intelektualitas, dan kompetensi
birokrasi tradisional rekruitmen berbasis relasi feodal-primordial.
EYD ejaan yang disempurnakan
hadis nabi perkataan dan perbuatan yang telah dan pernah dilaksanakan oleh nabi muhammad saw.
jalur sutera silk road, jalan perdagangan antara duna arab dengan dunia internasional.
kuomintang (gomindang) partai nasionalis china.
mao zedong (mao tse tung) partai komunis china.
masjid chee lin se masjid bertanduk satu
masjid kwang tah se masjid bermenara megah
nabi muhammad saw  tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri china.
zaman keemasan the golden age

 

Font: 847

*) Laman: www.suparlan.com; Surel: me@suparlan.com; Portal: Masdik.com

Depok, 8 Desember 2016.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.