Djokowir, Dosen Nyentrik yang Selalu Berbelangkon

0
964

MENJADI beda membutuhkan keberanian. Begitu halnya dengan Johannes Djoko Wirjawan. Dari luar saja penampilan dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) itu berbeda daripada dosen maupun mahasiswa yang lain

. Ya, belangkon khas Jogjakarta nangkring di atas kepalanya. Baju batik beserta sandal gunung semakin melengkapi penampilannya setiap kali mengajar.

Djokowir, begitu sapaan akrabnya di kampus, selalu menularkan energi positif kepada rekan maupun mahasiswanya. Di balik penampilannya yang unik, dosen yang mengajar di prodi pendidikan fisika itu tidak pernah melepas belangkon dari kepalanya.

Sudah lima tahun ini Djokowir berpenampilan seperti abdi dalem keraton. Hobi itu berawal pada 25 tahun silam.

Tepatnya, saat dia mendapatkan beasiswa ke Texas A&M University di Amerika Serikat. Saat itu, Djokowir lulus dari jenjang SMA. Menuntut ilmu ke negeri orang merupakan pengalaman pertama.

Tidak ada satu pun teman maupun sanak saudara yang dia kenal di Negeri Paman Sam tersebut.  Dia mengaku saat itu merupakan siswa yang kuper.

"Kalau teman yang lain, beberapa sudah sibuk menghubungi teman atau saudara di sana. Lha saya ini wong ndeso mau kuliah di luar negeri. Jadi, waktu itu tidak terpikir mau menghubungi siapa," kenang Djokowir.

Lalu, ide mengenakan belangkon tercetus begitu saja. Dengan percaya diri, Djokowir membawa belangkon dari rumah dan memakainya.

 "Saya mikir mau bawa sesuatu yang unik dari Jawa. Maka, yang terpikir oleh saya perlu mencari orang-orang Indonesia di sana untuk membantu saya. Caranya dengan ini," katanya sambil menunjuk belangkon kesayangannya.

Benar saja, sesampai di sana ada beberapa yang langsung menyapanya, wong Jowo ya?" saat mengetahui pria Tulungagung, 5 April 1961, tersebut memakai belangkon.

Kebiasaan itu pun terbawa hingga dia lulus kuliah. Tepat pada 1998, Djokowir kembali ke Indonesia. Dia memilih mengabdi di kampus UKWMS sebagai dosen di FKIP. ''Dari sini saya mulai keterusan. Kok rasanya pengin pakai belangkon terus," ungkapnya.

Selain itu, memakai belangkon di lingkungan kampus menjadi nazarnya saat itu. Dia mengakui, saat itu mahasiswa di prodi pendidikan fisika selalu sedikit. ''Setiap tahun yang masuk tidak lebih dari 25 orang," katanya.

Dia mengaku akan menjalani nazarnya hingga waktu yang tidak dia ketahui. "Kalau mahasiswanya sudah 50 setiap tahun, saya akan berhenti pakai ini. Ternyata, sampai sekarang belum," ujarnya, lantas tersenyum. (ara/c6/git)

Selengkapnya: www.jpnn.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.